LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR
(Penentuan Larutan Asam dan Basa)
OLEH : KELOMPOK V
Asliah Z Labaran
Hijiranan
Hildawati
Lisna
Megawati
Nur Aliah
Penanggung Jawab :
Mesra Damayanti, S.Pd.,M.Pd
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERISTAS SULAWESI BARAT
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukut kami panjatkan kehadirat Tuhan yang maha kuasa yanh telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan lengkap praktikum kimia dasar tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan laporan ini bertujuan agar setiap mahasiswa dapat memahami cara, prinsip,serta teknik dalam praktikum kimia dasar tekhusus pada praktikum ini yaitu penentuan larutan asam dan basa.
Ucapan terimakasih kami ucapkan yang sebesar besarnya disampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan serta penyusunan laporan lengkap ini. Tekhusus kepada dosen pembimbing dengan mata kuliah Kimia dasar yaitu Mesra Damayanti, S.Pd.,M.Pd.
Dalam penyusunan laporan lengkap ini kami menyadari bahwa laporan ini pasti memiliki kekurangan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik serta saran kepada pembaca laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Majene, Januari 2019
Tim penyusun
Kelompok V
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kita mengetahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran kimia, tentunya juga kita berkecimprung dengan asam dan basa.
Asam dan basa secara tidak sadar merupakan bagian dari kehidupan kita. Kita senantiasa berinteraksi dengan asam dan basa setiap hari. Asam basa sudah dikenal sejak dahulu. Istilah asam berasal dari bahasa latin yaitu acetum yang berarti cuka. Istilah basa berasal dari bahasa arab yang berarti abu..Asam dan basa sering kita jumpai dalam kehidupan sehari hari kita seperti makanan yang kita konsumsi itu kebanyakan asam sedangkan seperti sabun, detergen dll itu bersifat basa.
Selain itu asam dan basa juga berpengaruh bagi kondisi lingkungan. Keasaman tanah akan berpengaruh terhadap tumbuhan yang diatasnya.Meskipun asam dan basa sering digunakan dalam kehidupan sehari hari yang berupa padatan dan sabun, namun pada akhirnya akan tetap butuh di encerkan juga ( direaksikan atau dicampur dengan air ) agar lebih mudah diserap.
Pada tahun 1923 seorang ahli kimia bernama J.N Broansted dan ahli kimia inggris bernama T.N Lowry mengemukakan teori asam basa yang berbunyi suatu zat pemberi proton disebut asam dan suatu zat penerima proton disebut dengan basa. Dari definisi tersebut maka asam setelah melepas proton akan membentuk basa konjugasi dari asam tersebut. Demikian pula dengan basa, setelah menerima proton akan membentuk asam konjugasi dari basa tersebut.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan memahami mengidentifikasi asam dan basa dengan indikator kertas lakmus.
1.2 Dasar teori
Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua zat atau lebih yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutn dapat beruta gas, cairan,atau padatan.
Dalam sebuah larutan terdapat larutan asam dan basa. Asam dan basa merupakan zat kimia yang memiliki sifat yang dapat membantu kita untuk membedakannya.
1.2.1 Asam
Menurut Arhenius, asam adalah senyawa yang jika dilarutkan kedalam air menghasilkan Ion H+
Sifat sifat asam diantaranya :
- Terasa masam
- Bersifat korosif ( merusak logam, marmer, dan berbagai bahan lain )
- Terionisasi menghasilkan ion H+
- Memiliki Ph <7
- Memerahkan lakmus biru
Contoh senyawa yang termasuk pada asam, yaitu NH4Cl.
1.2.2 Basa
Menurut Arhenius, basa adalah senyawa yang jika dilarutkan kedalam air menghasilkan Ion OH-
Sifat sifat basa diantaranya adalah :
- Terasa pahit
- Bersifat kaustik ( licin seperti sabun )
- Terionisasi menghasilkan Ion OH-
- Memiliki Ph >7
- Membirukan lakmus merah
Contoh senyawa yang termasuk pada basa, yaitu NaOH dan KOH
Untuk mengenali sifat suatu larutan dapat diketahui dengan menggunakan indikator Ph asam dan basa. Indikator asam dan basa adalah suatu zat yang memberikan warna berbeda pada larutan asam dan larutan basa. Dengan adanya perbedaan warna tersebut, indikator asam basa dapat digunakan untuk mengetahui apa zat yang termasuk larutan asam atau larutan basa. Salah satu indikator asam basa yang praktis digunakan adalah lakmus. Lakmus berasal dari spesies lumut kerok yang dapat berbentuk kertas atau larutan. Lakmus sering digunakan berbentuk kertas, karena lbih sukar teroksidasi dan menghasilkan perubahan warna yang jelas.
1.3 Tujuan
Tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah mahasiswa diharapkan mampu :
1.3.1 Menjelaskansifat larutan asam dan basa dengan menggunakan lakmus merah dan biru melalui percobaan
1.3.2 Menentukan Ph suatu larutan dengan menggukanakan indikator pH atau indikator universal.
1.3.3 Menjelaskan perubahan yang terjadi pada larutan asam dan basa melalui penambahan indikator
1.4 Metode Praktikum
1.4.1 Waktu dan Tempat
Hari / tanggal : Rabu , 2 Januari 2019
Pukul : 10.00-12.10
Tempat : Gedung padang padang/Ruang universitas Sulawesi Barat
1.4.2 Alat dan Bahan
Alat :
- Rak tabung reaksi
- Tabung reaksi
- Plat tetes
- Gelas kimia
- Gelas ukur
- Botol semprot
- Pipet tetes
Bahan :
- NH4Cl
- KCL
- KOH
- Na2CO3
- Ca (OH)2
- NaOH
- Indikator PP
- Indikator BTB
- Lakmus Merah
- Lakmus biru
- Indikator Ph
- Masker
- Ember
- Air
1.4.3 Prosedur kerja
Prosedur kerja kegiatan praktikum ini kimia dasar ini secara umum adalah :
Penentuan pH larutan menggunakan indikator asam basa
Percobaan 1 :
1. Menyiapkan 7 tabung reaksi yang bersih dan kering
2. Memberi label masing masing tabun sesuai dengan larutan yang telah disediakan
3. Memasukkan 10 ml larutan kedalam masiing masing tabung reaksi sesuai dengan label pada tabung
4. Menguji larutan dengan menggunakan kertas lakmus merah dan biru
5. Kemudian catat perubahan warna yng terjaid pada kertas lakmus
6. Ketujuh larutan itu diberi kertas indikator pH untuk mengetahui jumlah pH nya
Percobaan 2 :
1. Masing masing larutan yang ada dalam tabung reaksi dimasukkan kedalam plat tetes.
2. Menambhakan 3 tetes larutan indikator pada setiap larutan, yaitu indikator pp
Mencatat pengamatan pada lembar pengamatan
1.5 Hasil pengamatan
Percobaan 1:
Percobaan 2:
Percobaan 3:
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pembahasan
Dalam teorimya telah disebutkan bahwa asam mempunyai rasa masam sedangkan basa mempunyai rasa pahit. Namun, begitu tidak di anjurkan untuk mengenali asam dan basa dengan mencicipinya karena banyak diantaranya yang dapat merusak kulit (korosif) atau dapat bersifat racun.
Asam dan basa dapat dikenali dengan menggunakan Zat indikator, yaituzat yang memberi warna berbeda dalam lingkungan asam dan lingkungan basa (zat yang dapat berubah ketika berinteraksi atau bereaksi dengan senyawa asam maupun senyawa basa), seperti pada pengujian yang telah dilakukan dan memperoleh hasil.
Percobaan I:
Pengujian kertas lakmus terhadap larutan dan penentuan pH menggunakan kertas Indikator (pH meter), yaitu :
Pada pengujian NH4Cl pada saat kita mencelupkan kertas lakmus pada larutan tersebut warna kertas lakmus merah tetap berwarna merah atau tidak berubah warna namun ketika kertas lakmus biru yang dicelupkan kedalam larutan NH4Cl warna kertas lakmus biru berubah menajdi merah. Hal ini menunjukkan bahwa NH4Cl besifat asam. Dimana ini dibuktikan ketika larutan NH4Cl diuji menggunakan kertas indikator (pH meter) diperoleh pH sebesar 6.
Pada pengujian larutan KOH, KCl, NaOH, Na2CO3, dan Ca(OH)2 ketika kita mencelupkan kertas lakus kedalam larutan tersebut kita menghasilkan data bahwa kertas lakmus merah mengalami perubahan menjadi biru dan kertas lakmus yang berwarna biru tidak mengalami perubahan. Dimana hal ini menunjukkan bahwa larutan KOH, KCl, NaOH, Na2CO3, dan Ca(OH)2 ini bersifat basa. Ini juga dapat dibuktikan ketika kita mengujinya dengan mencelupkan kertas indikator (pH meter) di peroleh pH secara berturut turtu dan berurutan yaitu 14, 7, 14, dan 12 sedangkan Ca(OH)2 dalam praktikum ini tidak dilakukan pengujian menggunakan kertas indikator (pH meter). Percobaan yang didapat menggunakan kertas indikator kertas lakmus dan kertas indikator (pH meter) menunjukkan hasil yang sama atau sesuai.
Percobaan 2:
pengujian larutan NH4Cl dan KOH dengan menetesi indikator pp
Sebelum masuk pada percobaan kedua kita sebelumnya memilih 2 larutan yang di inginkan serta kesepakatan masing masing kelompok, dan kelompok 5 memilih larutan NH4Cl dan KOH.Setelah pemilihan larutan dilakukan, larutan NH4Cl dan KOH diteteskan kedalam plat tetes, disini kita memilih tempat 1 dan 3 karena ini dapat memudahkan kita membedakan antara larutan NH4Cl dan KOH. Setelah itu setiap larutan ditambahkan dengan 3 tetes indikator PP. Pada Indikator pp, larutan NH4Cl ketika ditetesi indikator pp larutannya tidak mengalami perubahan warna pada larutannya atau tetap, ini dikarenakan indikator fenolftalen (PP) memiliki trayeh pH 8,3-10.0 dimana jika ditetesi pada larutan yang bersifat asam maka larutan tersebut tidak akan mengalami perubahan seperti pada larutan NH4Cl yang kita ketahui bahwa larutan tersebut berifat asam. Sedangkan pada larutan KOH ketika ditetesi indikator pp larutan KOH mengalami perubahan warna menjadi pink ke ungu unguan ini disebabkan karena adanya indikator fenolftalen (pp) dimana indikator pp ini memiliki trayeh pH 8,3-10,0 yang berwarna merah apabila dalam larutan basa.
Percobaan 3:
pengujian larutan NH4Cl dan KOH dengan menetesi indikator metil merah (mm)
Pada indikator metil merah (mm), larutan NH4Cl ketika ditambahkan atau ditetesi dengan dengan indikator metil merah larutan NH4Cl mengalami perubahan warna menjadi kuning karena indikator metil merah memiliki trayeh pH 4,2-6,3 yang berwarna kuning apabilah dalam larutan asam. Sedangkan larutan KOH ketika di tetesi atau ditambahkan indikator metil merah juuga mengalami perubahan warna menjadi warna kuning Ini jugs disebabkan karena indikator metil merah memiliki trayeh pH 4,2-6,3 yang berwarna kuning apabila dalam larutan basa. Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa indikator merah ini apabila di larutkan kedalam larutan asam dan basa dia tidak akan terpengaruh karena metil merah bersifat netral
Perlu kita ketahui bahwa perubahan warna pada kertas lakmus disebabkan karena adanya orchein yang berwarna biru dalam kertas lakmus. Dimana zat tersebut yang menyebabkan kertas lakmus dapat berubahwarna saat bereaksi dengan asam ataupun basa, dan juga menyebabkan kertas lakmus sukar bereaksi dengan oksigen dalam udara yang menyebabkan kertas lakmus bertahan lama.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
- Asam adalah suatu larutan yang mempunyai pH<7, mempunyai rasa asam dan dapat memerahkan lakmus biru.
- Basa adaah suatu larutan yang mempunyai Ph>7, mempunyai rasa pahit dan dapat membirukan lakmus merah.
- Indikator kertas lakmus berfungsi untuk mengidentifikasi sifat suatu larutan, apakah larutan tersebut bersifat asam, basa atau netral.
- Perubahan warna pada kertas lakmus disebabkan karena adanya orchein (ekstraklichenes) yang berwarna biru dalam kertas lakmus. Dimana zat tersebut menyebabkan kertas lakmus dapat berubah warna saat bereaksi dengan asam ataupun basa.
- PH meter berfungsi untuk mengetahui derajat keasaman (Ph) suatu larutan.
- Hasil yang di dapatkan dengan menggunakan indikator kertas lakmus dan Ph meter sama.
3. 1 Saran
Pada saat melakukan praktikum, praktikan harus menggunakan perlengkapan laboratorium dengan lengkap. Hal ini bertujuan untuk memberikan keamanan pada praktiakn. Setiap melakukan praktikum sebaiknya masing-masing anggota praktikan dalam kelompok mengamati semua tahap praktikum, agar praktikan dapat memahami semua tahap yang diujikan. Dalam pengujuian larutan menggunakan indkator kertas lakmus maupun Ph meter kita harus lebih teliti dan hati-hati. Karena ketelitian merupakn hal yang paling pentingdalam proses penentuan sifat laruta
























Tidak ada komentar:
Posting Komentar