Tampilkan postingan dengan label SEMESTER III. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEMESTER III. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2020

Entropi dan Hukum Ketiga Termodinamika

PAPER

Entropi dan Hukum Ketiga Termodinamika




Oleh:

Nama Lengkap     : Hildawati
NIM             : H0418321
Kelas                     : Fisika 2018
Mata Kuliah         : Termodinamika



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2020


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hal penting tentang hukum ketiga termodinamika ialah bahwa hukum ini memungkinkan kita menentukan entropi mutlak suatu zat. Dimulai dengan mengetahui bahwa entropi suatu zat kristal murni adalah nol pada suhu 0 K, kita dapat mengukur peningkatan entropi zat bila dipanaskan, katakanlah pada 298 K. Hukum ketiga termodinamika menyatakan bahwa suatu kristal sempurna pada nol mutlak mempunyai keteraturan sempurna, jadi entropinya adalah nol.
Kristal adalah zat padat yang terdiri dari atom-atom suatu barisan static barbaniar, suatu keadaan dinamik yang paling teratur. Jadi, begitu sulit mendapatkan zat dalam keadaan dinamik teratur atau Kristal sempurna seperti yang dibayangkan hukum ketiga termodinamika karena pada tingkat atomic setiap zat dalam kedudukannya selalu bergerak acak yang menyebabkan molekul-molekul menjadi kacau atau tidak teratur. Oleh karena itu, logika hukum ketiga ini menurut whitehead keliru dalam hal mengkonkretkan suatu hal yang abstrak. 

B. Rumusan Masalah

Bagaimana itu entropi dan hukum ketiga termodinamika?

C. Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui entropi dan hukum ketiga termodinamika.


BAB II
PEMBAHASAN


A. Entropi dan Hukum ketiga Termodinamika

Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum ketiga termodinamika menyatakan bahwa: “suatu sistem mencapai temperatur nol absolut, semua prosesnya akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.” 
Kristal adalah zat padat yang terdiri dari atom-atom diam dalam suatu barisan statik barbaniar. Suatu keadaan dinamik yang paling teratur. Zat padat ini merupakan tingkat wujud materi yang amat langka dan terdapat di alam sebagai planet dan meteorit. Kristal suatu zat padat sebenarnya seperti statik atau diam saja. Pada tingkat atomik, masing-masing atom itu sebenarnya bergetar di sekitar tempat kedudukannya dengan arah acak. Getaran semakin berkurang jika suhu kristal diturunkan alias didinginkan. Jika dibiarkan, getaran itu akan menjadi semakin giat, benda menjadi panas dan akhirnya membuat molekul-molekul itu terlepas satu sama lain sehingga relatif saling bebas membentuk zat cair. 
Hukum ketiga termodinamika menyatakan bahwa suatu Kristal sempurna pada nol mutlak mempunyai keteraturan sempurna, jadi entropinya adalah nol pada temperatur lain selain nol mutlak, terdapat kekacau-balauan yang disebabkan oleh eksitasi termal. Susunan paling teratur dari zat ialah zat kristalin sempurna pada nol mutlak (0 K), dimana pada susunan seperti ini atom atau molekul paling sulit bergerak. Jadi, entropi paling rendah yang dapat dicapai setiap zat ialah entropi dari suatu kristal sempurna pada nol mutlak. Berdasarkan hukum ketiga termodinamika, entropi kristal sempurna adalah nol pada suhu nol mutlak. Jika suhu meningkat, kebebasan gerak juga meningkat. Jadi, entropi pada suhu di atas 0 K lebih besar dari nol. Dan jika kristal terkotori atau ada cacat, entropinya lebih besar dari nol meskipun pada 0 K sebab susunannya tidak akan teratur secara sempurna.
Hukum ketiga termodinamika memungkinkan kita menentukan entropi mutlak suatu zat. Dimulai dengan mengetahui bahwa entropi suatu zat kristal murni adalah nol pada suhu 0 K, kita dapat mengukur peningkatan entropi zat bila dipanaskan, katakanlah pada 298 K. Perubahan entropi, ∆S, diberikan oleh:
∆S=Sf-Si
∆S=Sf
Karena Si adalah nol. Entropi zat pada 298 K, adalah ∆S atau Sf yang disebut entropi mutlak karena merupakan nilai sejati (true) dan bukan nilai yang diturunkan dengan menggunakan acuan sembarang. Jadi, nilai entropi yang dikutip sejauh ini adalah entropi mutlak. Sebaliknya, kita tak dapat mengetahui energi mutlak atau entalpi mutlak suatu zat karena nilai nol dari energi atau entalpi tidak didefinisikan. Perhatikan Gambar berikut.
Gambar diatas menunjukkan perubahan (peningkatan) entropi suatu zat terhadap suhu. Pada nol mutlak, nilai entropi zat adalah nol (dengan asumsi zat kristal sempurna). Sewaktu di panaskan, entropi meningkat secara bertahap karena gerakan molekul semakin besar. Pada titik leleh, entropi naik cukup tinggi karena terbentuknya keadaan cairan yang lebih acak. Pemanasan lebih lanjut meningkatkan entropi cairan lagi karena meningkatnya gerakan molekul. Pada titik didih terjadi peningkatan entropi yang besar akibat transisi dari cairan ke gas. Di atas suhu itu, entropi gas terus meningkat dengan meningkatnya suhu.

1. Dalil kalor Nernst

Dalil kalor Nernst, yaitu :
“perubahan entropi dalam suatu transformasi, mendekati nol, ketika temperatur mendekati nol : ∆S🡪0 ketika T🡪0”
Dari dalil Nernst ini jika kita mengganggap entropi unsur-unsur dalam bentuk kristal sempurnanya bernilai nol pada T=0, semua kristal sempurna senyawa-senyawa juga mempunyai entropi sebesar nol pada T=0 (karena perubahan entropi yang menyertai pembentukan senyawa-senyawa, seperti halnya semua transformasi, bernilai nol). Karena itu, semua kristal sempurna dianggap mempunyai entropi nol pada T=0. Kesimpulan ini dinyatakan dengan hukum ketiga Termodinamika. 
Hukum ketiga: Jika entropi semua unsur dalam keadaan stabilnya pada T=0 diambil sama dengan nol, semua zat mempunyai entropi positif yang pada T=0 dapat menjadi nol, dan untuk semua zat kristal sempurna termasuk senyawa-senyawa entropinya menjadi nol.
Perhatikan, bahwa hukum ketiga tidak menyatakan bahwa entropi adalah nol pada T=0, hukum itu hanya menyiratkan bahwa semua material sempurna mempunyai entropi yang sama. Sejauh menyangkut termodinamika, memilih nilai umum ini sebagai nol hanyalah untuk kemudahan.

2. Entropi Hukum ketiga 

Perhatikan persamaan Planck-Boltzmann,
S=k In W
Entropi dapat dihubungkan dengan kekacauan atau ketidakteraturan system. Keadaan system yang kacau ialah keadaan dimana partikel-partikel (molekul, atom atau ion) tersusun secara tidak teratur. Makin kacau susunan keadaan system, makin besar kebolehjadian keaadan system dan makin besar entropi. Oleh karena itu, zat padat Kristal pada umumnya mempunyai entropi yang relative rendah dibandingkan dengan cairan atau gas. Gas mempunyai entropi yang paling tinggi karena keadaan  system paling tidak teratur. Diuraikan di atas bahwa makin kacau atau tidak teratur susunan molekul, makin tinggi harga W dan entropi. Sebaliknya makin teratur susunan molekul system, makin rendah harga W dan entropi. 
Kalau suatu zat murni didinginkan hingga dekat 0 K, semua gerakan translasi dan rotasi terhenti dan molekul-molekul mengambil kedudukan tertentu dalam kisi Kristal. Molekul hanya memiliki energy vibrasi yang sama besar sehingga berada dalam keadaan kuantum tunggal. Ditinjau dari kedudukan dan distribusi energy, penyusunan molekul-molekul dalam suatu Kristal yang sempurna pada 0 K hanya dapat dilaksanakan dengan satu cara. Dalam hal ini W=1 dan In W=0, sehingga menurut persamaan Boltzmann S=0. Jadi, entropi suatu Kristal murni yang sempurna ialah nol pada 0 K. Pernyataan ini terkenal sebagai Hukum Ketiga Termodinamika.

3. Aplikasi hukum ketiga termodinamika

Teori termodinamika menyatakan bahwa panas (dan tekanan gas) terjadi karena gerakan kinetik dalam skala molekular. Jika gerakan ini dihentikan, maka suhu material tersebut akan mencapai 0 derajat kelvin. Aplikasinya yakni kebanyakan logam bisa menjadi superkonduktor pada suhu sangat rendah, karena tidak banyak keacakan gerakan kinetik dalam skala molekular yang mengganggu aliran electron.


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan 

Hukum ketiga termodinamika menyatakan bahwa: “suatu sistem mencapai temperatur nol absolut, semua prosesnya akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.” Hukum ini juga menyatakan bahwa suatu Kristal sempurna pada nol mutlak mempunyai keteraturan sempurna, jadi entropinya adalah nol pada temperature lain selain nol mutlak, terdapat kekacau-balauan yang disebabkan oleh eksitasi termal.
Suatu zat dapat mencapai nilai absolutnya pada suhu tertentu, sehinga pengukuran perubahan entropi dari satu suhu memberikan dasar untuk menetapkan entropi absolut suatu zat, yaitu entropi setiap Kristal sempurna adalah nol pada suhu nol absolut atau nol derajat Kelvin (K). Pernyataan ini terkenal sebagai Hukum Ketiga Termodinamika .


DAFTAR PUSTAKA


Jannah, Mifathul. 2017. Hukum Ketiga Termodinamika di http://kimiakar.blogspot.com/2017/12/hukum-ketiga-termodinamika_8.html?m=1 (diakses 30 april 2020)
Umb, Irfan. 2014. Entropi dan Hukum Ketiga Termodinamika di https://www.slideshare.net/lupaname/entropi-dan-hukum-ketiga-termodinamika-41029613 (diakses 21 april 2020)



Makalah Permulaan Sains Pada Zaman Yunani Kuno

MAKALAH

SEJARAH FISIKA

"PERMULAAN SAINS PADA ZAMAN YUNANI"



OLEH:

KELOMPOK III

Hildawati (NIM: H0418321)
Jenny Tasik Bintoeng (NIM: H0418003)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2019


KATA PENGANTAR

      Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul “PERMULAAN SAINS PADA ZAMAN YUNANI”. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas individu dalam mata kuliah Sejarah Fisika.
Atas bimbingan Ibu dosen dan saran dari teman-teman maka disusunlah Makalah ini. Semoga dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat berguna bagi kami semua dalam memenuhi salah satu syarat tugas kami di perkuliahan. Makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dalam proses pembelajaran.
Dalam menyusun makalah ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terkait. Dalam menyusun makalah ini, penulis telah berusaha dengan segenap kemampuan untuk membuat Makalah yang sebaik-baiknya. Sebagai pemula tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini, oleh karenanya kami mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini bisa menjadi lebih baik.
Demikianlah kata pengantar Makalah ini dan penulis berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis pribadi. Aamiin.


Majene, 11 September 2019                                                                                                 Penulis


DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………
Daftar Isi……………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang…………………………………………………………
Rumusan Masalah……………………………………………………...
Tujuan Penulisan……………………………………………………….
BAB II PEMBAHASAN
Permulaan Sains Pada Zaman Yunani Kuno…………………………...
Zaman Yunani Kuno……………………………………………………
Zaman Keemasan Filsafat Yunani……………………………………...
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yunani Kuno……………………….
BAB III PENUTUP
Kesimpulan………………………………………………………………
Kritik/saran………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………



 

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di dalam banyak literatur menyebutkan bahwa periode Yunani merupakan tonggak awal berkembangnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia. Ilmu pada zaman Yunani abad ke 6-1 SM lahirlah filsafat yang dikenal dengan the greek miracle.
Sains adalah sekumpulan pengetahuan empiris, teoretis, dan pengetahuan praktis tentang dunia alam, yang dihasilkan oleh para ilmuwan yang menekankan pengamatan, penjelasan, dan prediksi dari fenomena di dunia nyata. Sejarah sains adalah studi tentang sejarah perkembangan sains dan pengetahuan ilmiah, termasuk ilmu alam dan ilmu sosial. (sejarah seni dan humaniora disebut sebagai sejarah filologi) Dari abad ke-18 sampai akhir abad ke-20, Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan merupakan hal yang menarik untuk dikaji. Sebab, hal ini terkait dengan kisah perjalanan peradaban dunia. Selain itu, dengan memahami sejarah ilmu pengetahuan, maka kita bisa memahami asal usul sebuah pemikiran dan belajar tentang hal yang baik dan buruk dari sejarah tersebut. Dengan demikian akan diperoleh sebuah konsep pengetahuan yang lebih baik dan terbaru demi meningkatkan pengetahuan manusia. 
Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Dan juga karena pada zaman ini kajian-kajian keilmuan yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia.
Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf pertama atau filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal dari segala sesuatu. 


B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Permulaan Sains Zaman Yunani Kuno?
2. Siapa tokoh-tokoh pada Zaman Yunani Kuno?
3. Bagaimana Zaman Keemasan Filsafat Yunani?
4. Bagaimana Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yunani Kuno?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Permulaan Sains Zaman Yunani Kuno.
2. Untuk mengetahui tokoh-tokoh pada Zaman Yunani Kuno.
3. Untuk mengetahui Zaman Keemasan Filsafat Yunani.
4. Untuk mengetahui Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yunani Kuno.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Permulaan Sains Zaman Yunani Kuno

Di dalam banyak literatur menyebutkan bahwa periode Yunani merupakan tonggak awal berkembangnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia. . Ilmu pada zaman Yunani abad ke 6-1 SM lahirlah filsafat yang dikenal dengan the greek miracle. Ada beberapa faktor yang sudah mendahului dan seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani yaitu:

1. Mitologi  Yunani Kuno

Mitologi Yunani adalah sekumpulan mitos dan legenda yang berasal dari Yunani Kuno dan berisi kisah-kisah mengenai dewa dan pahlawan, sifat dunia, dan asal usul serta makna dari praktik ritual dan kultus orang Yunani Kuno. Mitologi Yunani menjelaskan asal mula dunia serta menceritakan kehidupan dan petualangan berbagaidewa, dewi, pahlawan, dan makhluk-makhluk mitologi. Mitologi dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat, karena mite-mite sudah merupakan percobaan untuk mengerti. Mite jenis pertama yang mencari keterangan tentang asal usul alam semesta sendiri biasanya disebut mite kosmogonis, sedangkan mite jenis kedua yang mencari keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian dalam alam semesta disebut mite kosmologis.

2. Puisi Homeros “Ilias dan Odysea”

Kedua karya puisi Homeros yang masing-masing berjudul Ilias dan Odyssea mempunyai kedudukan istimewa dalam kesusasteraan Yunani. Kedua puisi tersebut menceritakan menegenai peristiwa Perang Troya.

B. Tokoh-tokoh Pada Zaman Yunani Kuno

Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Zaman Yunani Kuno meliputi zaman filsafat pra-Socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf pertama atau filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal dari segala sesuatu.
Beberapa filsuf pada masa itu antara lain :

1. Thales (625-584 SM)

Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke Mesir. Di Mesir, Thales mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke Yunani. Ia dikatakan dapat mengukur piramida dari bayangannya saja. Selain itu, ia juga dapat mengukur jauhnya kapal di laut dari pantai. Kemudian Thales menjadi terkenal setelah berhail memprediksi terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Thales dapat melakukan prediksi tersebut karena ia mempelajari catatan-catatan astronomis yang tersimpan di Babilonia sejak 747 SM. Thales adalah seorang filsuf yang mengawali sejarah filsafat Barat pada abad ke-6 SM. Selain sebagai filsuf, Thales juga dikenal sebagai ahli geometri, astronomi,dan politik. Bersama dengan Anaximandros dan Anaximenes, Thales digolongkan ke dalam Mazhab Miletos.
Pemikiran-pemikiran Thales :
a. Air sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu
Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip dasar (dalam bahasa Yunani arche) segala sesuatu. Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang.
b. Pandangan tentang Jiwa
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga benda mati.
c. Teorema Thales
Di dalam geometri, Thales dikenal karena menyumbangkan 
Apa yang disebut teorema Thales, kendati belum tentu seluruhnya merupakan buah pikiran aslinya. Teorema Thales berisi sebagai berikut: Jika AC adalah sebuah diameter, maka sudut B adalah selalu sudut siku-siku.

2. Anaximandros (610-546 SM)

Anaximandros adalah filsuf pertama yang meninggalkan bukti tulisan berbentuk prosa. Anaximandros telah menemukan, atau mengadaptasi, suatu jam matahari sederhana yang dinamakan gnomon. Ditambah lagi, ia mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi. Kemudian ia juga menyelidiki fenomena-fenomena alam seperti gerhana, petir, dan juga mengenai asal mula kehidupan, termasuk asal-mula manusia.
Pemikiran-pemikiran Anaximandros :
a. To Apeiron sebagai prinsip dasar segala sesuatu
To Aperion : Segala sesuatu yang ada di dalam jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang kering dan yang basah, malam dan terang).
b. Pandangan tentang Alam Semesta
Dengan prinsip to apeiron, Anaximandros membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros, dari to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus berperang satu sama lain. Panas berlawana dengan dingin, dingin menjadi cair lalu menmbeku memebentuk bumi. Api pecah menjadi matahari dan bulan serta bintang. Bumi berbentuk elips, dengan panajang nya sama dengan tiga kali lebarnya.
c. Pandangan tentang Makhluk Hidup
Mengenai terjadinya makhluk hidup di bumi, Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya bumi diliputi air semata-mata. Karena itu, makhluk hidup pertama yang ada di bumi adalah hewan yang hidup dalam air, misalnya makhluk seperti ikan.

3. Anaximendes

Pemikiran-Pemikiran Anaximenes :
a. Udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu
Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu. Udara adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul, atau akan muncul sebagai bentuk lain.
b. Tentang Alam Semesta
Bumi, menurut Anaximenes, berbentuk datar, luas, dan tipis, hampir seperti sebuah meja. Bumi dikatakan melayang di udara sebagaimana daun melayang di udara. Benda-benda langit seperti bulan, bintang, dan matahari juga melayang di udara dan mengelilingi bumi.
c. Tentang Jiwa
Jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan udara saja. Buktinya, manusia perlu bernapas untuk mempertahankan hidupnya.

4.  Phytagoras (582 SM – 496 SM)

Pythagoras, adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui teoremanya. Dikenal sebagai "Bapak Bilangan", dia memberikan sumbangan yang penting terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad ke-6 SM. Ia berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya).
Teorema Pythagoras menyatakan bahwa :
Jumlah luas bujur sangkar pada kaki sebuah segitiga siku-siku sama dengan luas bujur sangkar di hipotenus. Jika sebuah segitiga siku-siku mempunyai kaki dengan panjang a dan b dan hipotenus dengan panjang c, maka a+ b' = c

5. Herakleitos (535-475 SM)

Pemikiran-pemikiran Herakleitos
a. Segala Sesuatu Mengalir
Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen.
b. Logos
Logos adalah rasio yang menjadi hukum yang menguasai segala-galanya dan menggerakkan segala sesuatu, termasuk manusia.
c. Segala Sesuatu Berlawanan
Menurut Herakleitos, tiap benda terdiri dari yang berlawanan. Meskipun demikian, di dalam perlawanan tetap terdapat kesatuan. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa 'yang satu adalah banyak dan yang banyak adalah satu.

6. Xenophanes (570-480 SM)

Pemikiran-pemikiran Xenophanes:
a. Tentang Pengetahuan
Xenophanes menyatakan bahwa manusia tidak dapat mendapatkan pengetahuan yang mutlak. Akan tetapi, di saat yang sama, manusia harus mencari pengetahuan tersebut walaupun hanya berupa suatu kemungkinan.
b. Tentang Alam Semesta
Xenophanes berpendapat bahwa matahari berjalan terus dengan gerak lurus, dan setiap pagi terbitlah matahari baru. Gerhana disebabkan matahari jatuh ke dalam lubang. Ia juga memandang bintang-bintang sebagai awan-awan yang berapi sehingga bersinar ketika malam.

7. Parmenides (540-475 SM)

Parmenides adalah seorang filsuf dari Mazhab Elea. Di dalam 
Mazhab Elea, Parmenides merupakan tokoh yang paling terkenal. Pemikiran filsafatnya bertentangan dengan Herakleitos sebab ia berpendapat bahwa segala sesuatu "yang ada" tidak berubah.

8. Protagoras (490-420 SM)

Pemikiran-pemikiran Protagoras :
a. Tentang Pengenalan
Di dalam buku yang berjudul "Kebenaran", Protagoras menyatakan bahwa : "Manusia adalah ukuran untuk segala-galanya: untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada, dan untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada."


C. Zaman Keemasan Filsafat Yunani

Zaman ini disebut dengan zaman keemasan keilmuan bangsa Yunani, karena pada zaman ini kajian-kajian keilmuan yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia.

1. Socrates (470-399 SM)

Secara historis, filsafat Socrates mengandung pertanyaan karena Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Apa yang dikenal sebagai pemikiran Socrates pada dasarnya adalah berasal dari catatan oleh Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya.
Filosofi Socrates :
Sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.

2. Plato (429 SM – 346 SM)

Hasil pemikiran Socrates dapat diketemukan pada muridnya Plato. Plato (bahasa Yunani: Πλάτων) (lahir sekitar 429 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan 
Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah muridSocrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates.
Ciri-ciri Karya-karya Plato
  • Bersifat Sokratik
  • Berbentuk dialog
  • Adanya mite-mite.
Pandangan Plato:
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea.

3. Aristoteles ( 384-322 SM)

Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis.
Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti Fisika, Astronomi, Biologi, Psikologi, Metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.
Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau "the master of those who know", sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.
Sumbangan yang sampai sekarang masih digunakan dalam ilmu pengetahuan adalah mengenai abstraksi, yakni aktivitas rasional di mana seseorang memperoleh pengetahuan. Menurut Aristoteles ada tiga macam abstraksi, yakni abstraksi fisis, abstraksi matematis, dan metafisis.
Teori Aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk. Keduanya ini merupakan prinsip-prinsip metafisis, Materi adal.ah prinsip yaug tidak ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan sebutan Hylemorfisyme.

D. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Yunani Kuno

Teknologi Yunani Kuno berkembang maju pada saat abad ke-5 SM, dan sampai dengan zaman Roma dan seterusnya.
Perkembangan ini mencakup :
1. Teknologi Air
2. Pertambangan
3. Teknologi
4. Arsitektur Yunani Kuno
5. Matematika Yunani Kuno
6. Geologi dan Seismologi
7. Obat-obatan dan Psikologi
8. Fisika dan Metereologi
Perkembangan ini dimulai saat Archimedes yang menemukan tekanan Hidrostatis. Dan Democratus, Leocippus, dan beberapa ilmuwan lainnya menemukan teori model atom. Plato juga turut menyumbangkan sumbangsihnya lewat Polihedron dan Segitiga. Hal lainnya yang ditemukan adalah listrik, magnet, siklus air dan lainnya.
Socrates juga menjelaskan mengenai fenomena alam dan bagaimana terjadinya alam dan bgaimana terjadinya fenomena atmosfer.
Kimia Yunani mempunyai teori atom dan selanjutnya Thales meneliti air. Anaximenes menelaah udara, helicratus meneliti api sebagai sumber substansial bumi.
Empedocles menambahkan bahwa bumi terkombinasi oleh unsur elemen yang bekerja sama dengan cinta dan kekejaman. Teori ini yang dikembangkan Aristoteles,dia juga ikut mengkritik model atom Leocippus dan Democritus.
 
 

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sejarah perkembangan sains (ilmu) berawal dari zaman Yunani Kuno. Zaman Yunani merupakan zaman filsafat, karena pada zaman ini para filsuf menggunakan sikap ‘’Aninquiring Attitude’’ dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap ‘’ Receptive attitude’’. Dan di zaman ini banyak bermunculan filsuf terkenal seperti Thales, Phytagoras, Socrates, Demokritus, Plato, dan Aristoteles.
Sains adalah sekumpulan pengetahuan empiris, teoretis, dan pengetahuan praktis tentang dunia alam, yang dihasilkan oleh para ilmuwan yang menekankan pengamatan, penjelasan, dan prediksi dari fenomena di dunia nyata. Sejarah sains adalah studi tentang sejarah perkembangan sains dan pengetahuan ilmiah, termasuk ilmu alam dan ilmu sosial. Dari abad ke-18 sampai akhir abad ke-20, Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan merupakan hal yang menarik untuk dikaji. Sebab, hal ini terkait dengan kisah perjalanan peradaban dunia. Selain itu, dengan memahami sejarah ilmu pengetahuan, maka kita bisa memahami asal usul sebuah pemikiran dan belajar tentang hal yang baik dan buruk dari sejarah tersebut. Dengan demikian akan diperoleh sebuah konsep pengetahuan yang lebih baik dan terbaru demi meningkatkan pengetahuan manusia. Banyak kisah yang mewarnai sejarah perkembangan ilmu pengetahuan mulai dari kegagalan sampai penemuan-penemuan yang dianggap spektakuler. Karena perkembangan ilmu pengetahuan (saiss) tidaklah muncul dengan sendirinya. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang selalu lapar akan pengetahuan harus mengetahui secara detail sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu.


B. Kritik/saran

Adapun kritik/saran dalam penulisan Makalah ini yaitu :
1. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami selanjutnya.
2. Semoga dengan dibuatnya makalah ini kita bisa menambah wawasan pengetahuan kita, tentang Permulaan Sains Zaman Yunani. Dan semoga kita bisa lebih kritis lagi dalam mempelajari  Permulaan Sains Zaman Yunani.  
3. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis pribadi. Aamiin.
 
 

DAFTAR PUSTAKA

 
Egon Doank. 2015. Permulaan Sains Pada Zaman Yunani http://tokohtokohduniaku.blogspot.com/2015/02/makalah-permulaan-sains-di-zaman-yunani.html?m=1 (di akses pada 11 september 2019)
Heriyani dan Nurdesiana. 2013. Sejarah Fisika  http://heriyanipendidikanfisika.blogspot.com/2013/07/sains-zaman-yunani-kuno.html?m=1 (di akses pada 11 september 2019)
Science and nature. 2014. Sejarah Perkembangan Sains http://muflihatulabadiyah.blogspot.com/2014/12/sejarah-perkembangan-sains.html?m=1 (di akses pada 11 september 2019)

Makalah Sosiologi Pendidikan

MAKALAH

PENGANTAR PENDIDIKAN

SOSIOLOGI PENDIDIKAN


OLEH:

KELOMPOK III


Dewi Maharani (H0418001)

Fila Delfia (H0418302

Hildawati (H0418321)

Rasa Wulan (H0418301)

Sukma (H0418312)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULAWESI BARAT

2019



KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul “SOSIOLOGI PENDIDIKAN”. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas individu dalam mata kuliah Pengantar Pendidikan.
Atas bimbingan Bapak dosen dan saran dari teman-teman maka disusunlah Makalah ini. Semoga dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat berguna bagi kami semua dalam memenuhi salah satu syarat tugas kami di perkuliahan. Makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dalam proses pembelajaran.
Dalam menyusun makalah ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terkait. Dalam menyusun makalah ini, penulis telah berusaha dengan segenap kemampuan untuk membuat Makalah yang sebaik-baiknya. Sebagai pemula tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini, oleh karenanya kami mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini bisa menjadi lebih baik.
Demikianlah kata pengantar Makalah ini dan penulis berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis pribadi. Aamiin.
                                                                                  

Majene, 18 desember 2019                                                                                                 Penulis



DAFTAR ISI


Kata pengantar    i
Daftar isi    ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang    1
Tujuan Penulisan    2
BAB II PEMBAHASAN
pengertian sosiologi pendidikan    3
pengertian sosiologi menurut para ahli    3
ruang lingkup sosiologi pendidikan    5
tujuan sosiologi pendidikan    6
pendekatan teoritis dalam sosiologi pendidikan    6
BAB III PENUTUP
Kesimpulan    9
Saran    10
DAFTAR PUSTAKA    11


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk sosial pasti tidak pernah jauh dengan yang namanya hubungan sosial, karena hubungan tersebut dapat mempengaruhi perilaku orang itu sendiri. Sosiologi batasan suatu kajian ilmu yang sangat perlu untuk dipahami dan dimengerti.
Karena melalui batasan ini kita dapat menentukan ruang kajian suatu bidang keilmuan dengan bidang keilmuan lainya. Namun pekerjaan tersebut tidaklah gampang, termasuk membuat batasan sosiologi. Karena sudut pandang dalam membuat suatu batasan berbeda-beda.
Sosiologi pendidikan dapat didefinisikan dengan dua cara. Pertama, sosiologi didefinisikan sebagai suatu kajian yang mempelajari hubungan antara masyarakat yang didalamnya terjadi interaksi sosial dengan pendidikan. Kedua, sosiologi pendidikan didefinisikan sebagai pendekatan sosiologis yang diterapkan pada fenomena pendidikan. Pendekatan sosiologis terdiri dari konsep variabel teori dan metode yang digunakan dalam sosiologi ini untuk memahami kenyataan sosial.
Sebenarnya jauh sebelum adanya kemunculan sosiologi telah ada para intelektual tentang masalah dan isu yang berhubungan dengan masyarakat dan tingkah laku manusianya.
Latar belakang belakang yang mempengaruhi proses kelahiran sosiologi ialah perubahan dan krisis yang terjadi di Eropa Barat. Hal ini ditandai dengan kemunculan Kapitalisme, perubahan di bidang sosial dan politik, perubahan dengan reformasi Martin Luther, meningkatnya individualisme, lehirnya ilmu pengetahuan modern,berkembangnya kepercayaan terhadap diri sendiri, dan revolusi industri pada abad ke 18, serta terjadinya revolusi perancis.

B. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian sosiologi pendidikan
2. Untuk mengetahui pengertian sosiologi menurut para ahli
3. Untuk mengetahui ruang lingkup sosiologi pendidikan
4. Untuk mengetahui tujuan sosiologi pendidikan
5. Untuk mengetahui pendekatan teoritis dalam sosiologi pendidikan


BAB II 
PEMBAHASAN


A. Pengertian Sosiologi Pendidikan 

    Secara umum Sosiologi pendidikan adalah kajian sosiologis yang mempelajari hubungan antara masyarakat, interaksi sosial dalam paradigma pendidikan. Artinya dalam sosiologi pendidikan ada hubungan pengajaran, pelatihan, dan pengetahuan dalam perubahan sosial dalam masyarakat.
Pendidikan selalu dilihat sebagai usaha manusia optimistik mendasar yang dikenali dari aspirasi untuk kemajuan dan kesejahteraan. Pendidikan dipahami oleh banyak orang sebagai usaha untuk mencapai kesetaraan sosial yang lebih tinggi dan memperoleh kekayaan dan status sosial. Pendidikan dianggap sebagai tempat anak-anak bisa berkembang sesuai kebutuhan dan potensi unik mereka. Selain itu juga sebagai salah satu arti terbaik dalam mencapai kesetaraan sosial yang lebih tinggi. Banyak orang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan setiap orang hingga potensi tertinggi mereka dan memberi kesempatan untuk mencapai segalanya dalam kehidupan sesuai kemampuan alami mereka (meritokrasi). Banyak juga orang yang meragukan bahwa sistem pendidikan apapun mencapai tujuan ini dengan sempurna. Pendapat lain mengemukakan pandangan negatif, menyatakan bahwa sistem pendidikan dirancang dengan tujuan mengakibatkan reproduksi ketidaksetaraan sosial. 

B. Pengertian Sosiologi Pendidikan Menurut Para Ahli

Pendapat sosiologi pendidikan dalam pandangan para ahli, antara lain adalah sebagai berikut;

1. F.G. Robbins

Sosiologi pendidikan adalah cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang struktur dan dinamika dalam proses pendidikan. Struktur disini mengandung sejumlah dalam pendidikan, sistem, kepribadian, dan pengetahuan. Sedangkan dinamika pendidikan berhubungan erat dengan masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat.

2. H.P. Fairchild

Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mengaplikasikan tentang problema dalam pendidikan.

3. Prof. DR S. Nasution,M.A.

Definisi sosiologi pendidikan adalah wawasan mengenai cara pengendalian dan pegembangkan sosial secara individu dan kelompok dalam masyarakat sosial.

4. Drs. Ary H. Gunawan

Ilmu pengetahuan yang menuntaskan problema dalam pendidikan yang malalui kajian sosial.

5. Francis Broun

Definisi sosiologi pendidikan adalah disiplin ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam analisa lingkungan budaya, individu dalam nuansa pendidikan. Artinya seluruh aspek budaya, sosial, dan pendidikan dijadikan satu dalam prosedur ini.

6. Rochman Natawidjaja

Sosiologi pendidikan adalah cabang disiplin ilmu sosiologi yang mempelajari hubungan diantara pranata suatu pendidikan dengan kehidupan yang lainnya. Misalnya adalah adanya interaksi sosial yang terjadi dalam lembaga pendidikan.

7. Nasution

Sosiologi pendidikan artinya ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang proses pendidikan dalam mengendalikan perkembangan kelompok, atau individu agra lebih baik lagi dari sebelumnya yang terjadi.

Dari pengertian sosiologi pendidikan menurut para ahli diatas, dapatlah disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah pendekatan sosiologis terhadap fenomena pendidikan melalui konsep, variabel, metode, dan teori sebagai upaya untuk menganalisa kenyataan sosial, khususnya masalah-masalah dalam dunia pendidikan.

C. Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan

Ruang lingkup dalam sosiologi pendidikan, antara lain adalah sebagai berikut;
1. Interaksi guru dan siswa, interaksi ini timbul dalam lembaga pendidikan yang mana dalam bentuknya selalu berkaitan dengan pengajaran dan penyempaian pengetahuan antara seorang guru dan murid. 
2. Dinamika kelompok dan di organisasi intra sekolah, problema ini menjadi fokus dalam pembahasan sosiologi pendidikan. Hal in lantaran dalam kelompok sosial di lembaga pendidikan selalu berkaitan erat dengan orgaganisasi intra sekolah. 
3. Struktur dan fungsi sistem pendidikan, Kajian dalam sosiologi pendidikan juga memfokuskan diri pada penanganan natara struktur dan sitem yang ada di dunia pendidikan.
4.  Sistem, terakhir yang menjadi fokus kajian dalam sosiologi pendidikan adalah sistem pendidikan dalam masyarakat yang berhasil dan tidak berhasil diterapkan atau dipaplikasikannya. Misalnya untuk sistem pendidikan ini adalah kurikulum. 


D. Tujuan Sosiologi Pendidikan

Sosiologi pendidikan di ajarakan atau dipelajari ialah untuk menjelaskan tentang fungsi-fungsi pengetahuan melalui eksplanasi, prediksi, dan utilisasi terhadap segala bentuk yang ada dalam fenomena siosial dan juga fenomena pendidikan, hal ini lantaran model yang terdapat dalam pendidikan lebih bersifat fungsional dan dampaknya akan lebih dirasakan oleh masyarakat secara luas.
Tujuan sosiologi pendidikan sebagai :
1. Memahami peranan guru dikomunitas dan sekolah sebagai sarana perkembangan sosial dan faktor sosial yang mempengaruhi sekolah.
2. Memahami ediologi demokrasi, kebudayaan, sistem ekonomi dan kecendrungan sosial yang dikaitkan dengan institusi pendidikan formal dan informal.
3. Memahami kekuatan sosial dan pengaruhnya terhadap individu.
4. Sosialisi kurikulum.
5. Penggunaan teknik-teknik penelitian dan berfikir kritis untuk mencapai tujuan-tujuan diatas.


E. Pendekatan teoritis dalam sosiologi pendidikan

1. Teori fungsionalisme

Tokoh sosiologi klasik Emile Durkheim adalah salah satu teoritisi fungsi sosial dalam pendidikan. Durkheim meyakini bahwa pendidikan moral dibutuhkan untuk membangun dan menjaga solidaritas sosial di masyarakat. Solidaritas sosial yang menguat mengurangi munculnya gejala disintegrasi sosial dan masalah-masalah sosial lainnya. Pendidikan moral adalah sarana menuju sebuah tatanan kehidupan sosial yang harmonis. Pandangan seperti ini menempatkan durkheim sebagai pencetus perspektif fungsionalisme dalam pendidikan. Teori fungsionalisme menekankan pada asumsi bahwa bentuk institusi sosial lain di masyarakat seperti, politik, agama, norma, nilai moral, dan etika sangat tergantung pada proses sosialisasi yang terjadi dalam institusi pendidikan. Menurut pandangan ini, fungsi sosialisasi dalam pendidikan diarahkan untuk menghasilkan kontrol sosial atau pengendalian sosial dan mengurangi perilaku menyimpang.
2. Teori interaksionisme simbolik
Pendekatan ini fokus pada proses interaksi dalam institusi pendidikan seperti sekolah dan outcome dari interaksi tersebut. Sebagai contoh, interaksi antara guru dan murid di sekolah. Teori interaksionalisme simbolik melihat bagaimana karakteristik sosial membentuk interaksi sosial seperti interaksi antar gender, kelas, ras, dan sebagainya, dan bagaimana interaksi tersebut menciptakan ekspektasi antara guru dan murid.
3. Teori konflik
Pendekatan teori konflik dalam sosiologi pendidikan terinspirasi Karl Marx yang mengkaji relasi antara pekerja dan pemilik faktor produksi dalam sistem ekonomi kapitalisme. Teori konflik dalam sosiologi pendidikan memiliki fokus investigasi pada bagaimana institusi pendidikan berkontribusi pada reproduksi hierarki dan kesenjangan sosial dalam masyarakat. Pendekatan ini pada awalnya melihat bahwa institusi pendidikan seperti sekolah atau universitas merefleksikan sebuah hierarki berdasarkan kelas, gender, ras, dan sebagainya. Perbedaan tersebut justru direproduksi oleh proses pendidikan. Misalnya tentang bagaimana mahasiswa dari kelas sosial tertentu, ras tertentu atau gender tertentu memiliki potensi lebih besar untuk menjadi pekerja atau manajer dibanding mahasiswa lainnya.
Pendekatan konflik juga mengasumsikan bahwa sistem pendidikan yang berlaku beserta kurikulumnya adalah produk dari kekuasaan yang sedang dominan, dari nilai-nilai dan keyakinan yang dimiliki oleh mayoritas. Kecenderungannya adalah, nilai-nilai tersebut memproduksi proses pendidikan yang mengesampingkan kelompok-kelompok minoritas berdasarkan, kelas, gender, agama, ras, dan lain-lain. Dengan menggunakan teori konflik, pendidikan dilihat sebagai institusi sosial yang mereproduksi kekuasaan, dominasi, opresi, dan ketimpangan dalam masyarakat.


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

1. Sosiologi pendidikan adalah kajian sosiologis yang mempelajari hubungan antara masyarakat, interaksi sosial dalam paradigma pendidikan.
2. Menurut para ahli, dapatl disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah pendekatan sosiologis terhadap fenomena pendidikan melalui konsep, variabel, metode, dan teori sebagai upaya untuk menganalisa kenyataan sosial, khususnya masalah-masalah dalam dunia pendidikan.
3. Ruang lingkup dalam sosiologi pendidikan, antara lain adalah sebagai berikut;
a. Interaksi guru dan siswa.
b. Dinamika kelompok dan di organisasi intra sekolah,
c. Struktur dan fungsi sistem pendidikan.
d. Sistem,
4. Sosiologi pendidikan di ajarakan atau dipelajari ialah untuk menjelaskan tentang fungsi-fungsi pengetahuan melalui eksplanasi, prediksi, dan utilisasi terhadap segala bentuk yang ada dalam fenomena siosial dan juga fenomena pendidikan, hal ini lantaran model yang terdapat dalam pendidikan lebih bersifat fungsional dan dampaknya akan lebih dirasakan oleh masyarakat secara luas.
5. Adapun Pendekatan teoritis dalam sosiologi pendidikan, yaitu:
a. Teori fungsionalisme
b. Teori interaksionisme simbolik.
c. Teori konflik

B. Saran

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami selanjutnya. Semoga dengan dibuatnya makalah ini kita bisa menambah wawasan pengetahuan kita, tentang Sosiologi Pendidikan. Dan semoga kita bisa lebih kritis lagi dalam mempelajari  Sosiologi Pendidikan.  Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis pribadi. Aamiin.
  
 
 

DAFTAR PUSTAKA

Pengertian Sosiologi Pendidikan, Ruang Lingkup, dan Tujuannya Lengkap  di Dosensosiologi.com/pengertian-sosiologi-pendidikan-ruang-lingkup-dan-tujuannya-lengkap/ (di akses pada 18 desember 2019 pukul 16.00)
Wikipedia. Sosiologi Pendidikan di id.m.wikipedia.org/wiki/Sosiologi_pendidikan (di akses pada 18 desember 2019 pukul 16.00)
2017. Sosiologi Pendidikan: Definisi dan Teorinya di (di akses pada 18 desember 2019 pukul 16.00)
2019. Sejarah Sosiologi Pendidikan diwww-kompasiana-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.kompasiana.com  (di akses pada 18 desember 2019 pukul 16.00)
2019. Konsep Dasar Sosiologi Pendidikan di www.kompasiana.com/lutvihusna/5d916bff097f367255558c82/konsep-dasar-sosiologi-pendidikan?page=2  (d iakses pada 18 desember 2019 pukul 16.00)


Makalah Pendidikan Seumur Hidup

MAKALAH

PENGANTAR PENDIDIKAN

“PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP”



OLEH:
Nama: Hildawati
NIM: H0418321
Kelas: Fisika 2018



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2019


KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul “PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP”. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas individu dalam mata kuliah Pengantar Pendidikan.
Atas bimbingan Bapak dosen dan saran dari teman-teman maka disusunlah Makalah ini. Semoga dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat berguna bagi kami semua dalam memenuhi salah satu syarat tugas kami di perkuliahan. Makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dalam proses pembelajaran.
Dalam menyusun makalah ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terkait. Dalam menyusun makalah ini, penulis telah berusaha dengan segenap kemampuan untuk membuat Makalah yang sebaik-baiknya. Sebagai pemula tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini, oleh karenanya kami mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini bisa menjadi lebih baik.
Demikianlah kata pengantar Makalah ini dan penulis berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis pribadi. Aamiin.
                                                                                



Majene, 09 Desember 2019                                                                                                 Penulis




DAFTAR ISI


Kata pengantar    i
Daftar isi    ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang    1
Rumusan Masalah    1
Tujuan Penulisan    2
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Pendidikan Seumur Hidup    3
Konsep Dasar Pendidikan Seumur Hidup    3
Karakteristik Pendidikan Seumur Hidup    4
Tujuan Pendidikan Seumur Hidup    4
Tinjauan Pendidikan Seumur Hidup    5
Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program Pendidikan………...6
BAB III PENUTUP
Kesimpulan    8
Saran    8
DAFTAR PUSTAKA    9



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Pendidikan seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas, bukan itu yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar disemua tempat, semua situasi dan semua hal.
Belajar berarti memfungsikan hidup, orang yang tidak belajar berarti telah kehilangan hidupnya, paling tidak telah kehilangan hidupnya sebagai manusia. Karena hidup manusia itu bukan hanya individu dalam dirinya saja tapi juga interaksi dengan sesamanya, dengan antar generasi dan kehidupan secara universal.
Dalam Pendidikan atau Belajar terdapat interaksi antara tantangan (challenge) dari alam luar diri manusia dan balasan (response) dari daya dalam diri manusia. Dalam belajar juga terjadi interaksi komunikasi antara manusia dan berlangsungnya kesinambungan antar generasi serta belajar melestarikan hidup, mengamankan hidup dan menghindari pengrusakan hidup. Belajar berarti menghargai hidup kita.
Dalam agama sering kita dengar kalimat ” Belajarlah (tuntutlah ilmu) dari ayunan sampai liang lahat”.
Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal.


B. Rumusan Masalah

1. Apa itu Pendidikan Seumur Hidup?
2. Bagaimana Konsep Dasar Pendidikan Seumur Hidup?
3. Bagaimana Karakteristik Pendidikan Seumur Hidup?
4. Apa saja Tujuan Pendidikan Seumur Hidup?
5. Apa saja Tinjauan Pendidikan Seumur Hidup?
6. Apa saja Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program Pendidikan?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Pengertian Pendidikan Seumur Hidup
2. Untuk mengetahui Konsep Dasar Pendidikan Seumur Hidup
3. Untuk mengetahui Karakteristik Pendidikan Seumur Hidup
4. Untuk mengetahui Tujuan Pendidikan Seumur Hidup
5. Untuk mengetahui Tinjauan Pendidikan Seumur Hidup
6. Untuk mengetahui Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program Pendidikan



BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Pendidikan Seumur Hidup

Pendidikan seumur hidup adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia. proses pendidikan seumur hidup berlangsung secara kontinue, dan tidak terbatas oleh waktu seperti pendidikan formal, proses belajar seumur hidup tidak hanya dilakukan seorang yang terpelajar tetapi semua lapisan masyarakat bisa melaksanakanya.
Pendidikan seumur hidup, yang disebut dengan Life Long Education adalah pendidikan yang menekankan bahwa proses pendidikan berlangsung terus menerus sejak seseorang dilahirkan hingga meningeal dunia, baik dilaksanakan di jalur pendidikan formal, non formal maupun informal.
Ide dan konsep pendidikan seumur hidup secara operasional tidak jarang pula dinamakan dengan edukasi sepanjang raga bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai konsep yang lebih ilmiah dimana urusan ini sudah menjadi tuntutan dunia global, edukasi seumur hidup sudah mermbah ke sekian banyak  daerah atau Negara dan telah dialami sejak tahun 70-an.  

B. Konsep Dasar Pendidikan Seumur Hidup

Pembahasan mengenai konsep edukasi seumur hidup ini bakal diuraikan dalam dua bagian yakni ditinjau dari dasar teoritis/religius dan dasar yuriditisnya.

1. Dasar Teoritis    

Konsep pendidikan seumur hidup pada mulanya diajukan oleh filosof dan pendidik Amerika yang paling terkenal yakni John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melewati bukunya: An Introduction to Life Long Education. Berdasarkan keterangan dari John Dewey, pendidikan tersebut menyatu dengan hidup. Oleh karena tersebut pendidikan terus dilangsungkan sepanjang hidup sampai-sampai pendidikan tersebut tidak pernah berakhir.
Konsep pendidikan seumur hidup sebetulnya telah lama dipikirkan oleh pakar edukasi dari zaman ke zaman. Dalam urusan ini sudah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana ditetapkan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw, yang artinya: “Tuntutlah ilmu semenjak dari ayunan sampai liang lahat”

2. Dasar Yuridis

Konsep pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kepandaian negara yaitu melewati :
a. Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 mengenai GBHN memutuskan prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara beda :
1) Pembangunan nasional dilakukan dalam rangka pembangunan insan Indonesia seutuhnya dan pembangunan semua rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang). 
2) Pendidikan dilangsungkan seumur hidup dan dilakukan dalam family (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).
b. Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003, mengenai system edukasi nasional pada pasal 26, disebutkan bahwa edukasi non formal diselenggarakan untuk warga masyarakat yang membutuhkan layanan edukasi yang bermanfaat sebagai pengganti, penambah, dan atau perlengkap edukasi formal dalam rangka menyokong pendidikan seumur hidup.

Dari dasar edukasi seumur hidup yang dilafalkan di atas, jelaslah bahwa proses edukasi dapat dilangsungkan selama insan masih hidup.

C. Karakteristik Pendidikan Seumur Hidup

1. Pendidikan tidaklah selesai setelah berakhirnya masa sekolah, tetapi merupakan sebuah proses yang berlangsung sepanjang hidup.
2. Pendidikan seumur hidup tidak diartikan sebagai pendidikan orang dewasa, tetapi pendidikan seumur hidup mencakup dan memadukan semua tahap pendidikan (pendidikan dasar, menengah dan sebagainya).
3. Pendidikan seumur hidup mencakup pola-pola pendidikan formal maupun pola pendidikan nonformal, baik kegiatan-kegiatan belajar terencana maupun kegiatan insidental.
4. Tujuan akhir pendidikan seumur hidup adalah mempertahankan dan meningkatkan mutu hidup.

D. Tujuan Pendidikan Seumur Hidup

    Tujuan pendidikan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya, dan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis serta untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu kehidupan. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan  kepribadian manusia  bersifat hidup dan dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup.
 

E.   Tinjauan Pendidikan Seumur Hidup 

Dasar pemikiran yang mengaku bahwa pendidikan seumur hidup ialah sangat penting. Dasar pemikiran itu ditinjau dari sekian banyak  aspek, diantaranya ialah sebagai inilah :

1. Tinjauan Ideologis

Pendidikan seumur hidup atau life long education bakal memungkingkan seseorang mengembangkan potensi-potensinya cocok dengan keperluan hidupnya, karena pada dasarnya seluruh manusia dicetuskan ke dunia memiliki hak sama, terutama untuk mendapatkan pendidikan dan penambahan pengetahuan dan keterampilannya (skill).

2. Tinjauan Ekonomi

Pendidikan merupakan teknik paling efektif untuk terbit dari sebuah lingkaran yang menyeret kepada ketidaktahuan dan kemelaratan.

3. Tinjauan Filosofil

Secara filosof, insan pada hakekatnya adalah satu kesatuan yang integral, yaitu sebagai makhluk pribadi, social, dan susila. Semuanya tersebut harus dikembangkan terus menerus secara optimal dan berkesinambungan sampai-sampai ketiganya berlangsung secara  seimbang. Manusia adalah makhluk individu, dan tidak bakal berdiri sendiri tanpa eksistensi orang lain. Oleh karena tersebut setiap pribadi membutuhkan orang beda dalam hidupnya. Disinalah pentingnya interaksi yang terbangun atas kesadaran kolektif untuk membina sebuah komunitas kumpulan dengan didasari atas kebersamaan dan saling menghargai antara pribadi itu.

4. Tinjauan Teknologis

Di era globalisasi seperti kini ini, tampaknya dunia dilanda oleh eksplosi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan sekian banyak  produk yang dihasilkannya. Semua orang, tak terkecuali semua pendidik, sarjana, pemimpin dan sebagainya dituntut tidak jarang kali memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya laksana apa yang terjadi di negara maju. Ketika semua pendidik dan semua praktisi pendidik tidak mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas, barangkali akan terbelakang dan tergilas oleh pesatnya pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi.

5. Tinjauan Psikologis dan Pedagogis

Perkembangan IPTEK paling pesat mempunyai akibat dan pengaruh besar terhadap sekian banyak  konsep, kiat dan cara pendidikan. Disamping itu, pertumbuhan tersebut pun makin luas, dalam dan kompleks, yang mengakibatkan ilmu pengetahuan tidak barangkali lagi diajarkan seluruhnya untuk anak didik di sekolah.

Oleh sebab itu, tugas pendidikan jalur sekolah yang utama sekarang merupakan mengajarkan bagaimana teknik belajar, menanamkan semangat yang powerful dalam diri anak guna belajar terus sepanjang hidupnya, menyerahkan skill untuk anak didik secara efektif supaya dia dapat beradaptasi dalam masyarakat yang ingin berubah secara cepat.

F. Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program Pendidikan

Implikasi merupakan akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Dengan demikian maksudnya adalah sesuatu yang merupakan tindak lanjut atau follow up dari suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Penerapan azas pendidikan seumur hidup pada isi program pendidikan dan sasaran pendidikan di masyarakat mengandung kemungkinan yang luas. Implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu: 

1. Pendidikan baca tulis fungsional

Program ini tidak saja penting bagi pendidikan seumur hidup dikarenakan relevansinya yang ada pada negara-negara berkembang dengan sebab masih banyaknya penduduk yang buta huruf, mereka lebih senang menonton TV, mendengarkan Radio, mengakses internet dari pada membaca. Meskipun cukup sulit untuk membuktikan peranan melek huruf fungsional terhadap pembangunan sosial ekonomi masyarakat, namun pengaruh IPTEK terhadap kehidupan masyarakat misalnya petani, justru disebabkan oleh karena pengetahuan pengetahuan baru pada mereka. Pengetahuan baru ini dapat diperoleh melalui bahan bacaan utamanya.   Realisasi baca tulis fungsional, minimal memuat dua hal, yaitu: 1, Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung yang fungsional bagi anak didik; 2. Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya.

2. Pendidikan vokasional

Pendidikan vokasional adalah sebagai program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah, ataupun sebagai pendidikan formal dan non formal, sebab itu program pendidikan yang bersifat remedial agar para lulusan sekolah tersebut menjadi tenaga yang produktif menjadi sangat penting.

3. Pendidikan professional

Realisasi pendidikan seumur hidup dalam kiat-kiat profesi telah tercipta Built in Mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi dan sikap profesionalnya. Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi pekerja dan buruh, berlaku pula bagi profesional, bahkan tantangan buat mereka lebih besar.

4. Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan

Era globalisasi dan informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK, telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, dengan cara masak yang serba menggunakan mekanik, sampai dengan cara menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja konsekuensinya menurut pendidikan yang berlangsung secara kontinyu (lifelong education). Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari azas pendidikan seumur hidup.  

5. Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik

Selain tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dalam kondisi sekarang dimana pola pikir masyarakat. yang semakin maju dan kritis, baik rakyat biasa, maupun pemimpin pemerintahan di negara yang demokratis, diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga negara. Pendidikan seumur hidup yang bersifat kontinyu dalam konteks ini merupakan konsekuensinya. 


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

    Pendidikan seumur hidup adalah proses pendidikan secara kontinyu berlangsung tanpa batas waktu dan tempat yaitu mulai sejak lahir sampai akhir hayat manusia. Pendidikan ini dilaksanakan di jalur pendidikan formal, non formal maupun informal yang berlansung dalam keluarga, di sekolah, dalam pekerjaan dan dalam kehidupan masyarakat.
    Konsep pendidikan seumur hidup sebetulnya telah lama dipikirkan oleh pakar edukasi dari zaman ke zaman.
    Pendidikan tidaklah selesai setelah berakhirnya masa sekolah, tetapi merupakan sebuah proses yang berlangsung sepanjang hidup. Pendidikan seumur hidup tidak diartikan sebagai pendidikan orang dewasa, tetapi pendidikan seumur hidup mencakup dan memadukan semua tahap pendidikan (pendidikan dasar, menengah dan sebagainya
    Tujuan pendidikan manusia seutuhnya dan dilaksanakan seumur hidup adalah untuk, mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya, menumbuhkan kesadaran bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis serta mengembangkan dan  meningkatkan harapan hidup manusia..
    Dasar pemikiran yang mengaku bahwa pendidikan seumur hidup ialah sangat penting. Dasar pemikiran itu ditinjau dari sekian banyak  aspek, diantaranya ialah: Tinjauan Ideologis, Tinjauan Ekonomi, Tinjauan Filosofil Tinjauan Teknologis dan Tinjauan Psikologis dan Paedagogis
    Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup adalah merupakan akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu pendidikan baca tulis fungsional, pendidikan vokasional, pendidikan profesional, pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan dan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik

B. Saran 

    Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami selanjutnya.
    Semoga dengan dibuatnya makalah ini kita bisa menambah wawasan pengetahuan kita, tentang Pendidikan Seumur Hidup. Dan semoga kita bisa mendapatkan Pendidikan Seumur.
    Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis pribadi. Aamiin.


DAFTAR PUSTAKA


Konsep Pendidikan Seumur Hidup di www.kumpulanmakalah.com/2015/11/pendidikan-seumur-hidup.html?m=1 (di akses 08 desember 2019)
Makalah Pendidikan Seumur Hidup di http://herayanti.blogspot.com/2018/03/makalah-pendidikan-seumur-hidup.html?m=1 (di akses 13 desember 2019)
Notes, Alifa. 2015. Pengertian Pendidikan Seumur Hidup di http://alifanotes.blogspot.com/2015/07/pengertian-pendidikan-seumur-hidup (di akses 08 desember 2019)
Pendidikan Seumur Hidup dan Implikasinya di https://www.research.net/publication/299655588_pendidikan_seumur_hidup_dan_implikasainya (di akses 13 desember 2019)
Wulandari, Ayu. 2016. Tujuan Pendidikan Seumur Hidup di http://ayuwldr.blogspot.com/2016/12/tujuan-pendidikan-seumur-hidup.html (di akses 13 desember 2019)

Skenario Pembelajaran Discovery Learning

FORMAT TUGAS


NAMA -NAMA ANGGOTA KELOMPOK:
Hildawati
Irda Mayung
Maisarah
Megawati
Suburia
Ulfa Zulfiani

POKOK BAHASAN        : TEKANAN ZAT
SUB POKOK BAHASAN    : TEKANAN GAS
MODEL PEMBELAJARAN    : DISCOVERY LEARNING (PEMBELAJARAN BERBASIS PENEMUAN)
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN:

Kegiatan

Fase

Kegiatan

Waktu

(menit)

Pendahuluan


I

Memberi Stimulus


  • Guru memberikan rangsangan dengan cara mendemonstrasikan suau percobaan (Menutup  sebuah gelas yang berisi air dengan kertas HVS , kemudian ditahan dengan telapak tangan dan dibalik. Selanjutnya lepaskan tangan secara perlahan) 





Kegiatan inti


II

Mengidentifikasi Masalah

  • Guru memberikan kesempatan kepada  peserta didik untuk mengudentifikasi sebanyak mungkin masalah yang berkaitan dengan demonstrasi yang dilakukan oleh guru sampai peserta didik dapat berpikir dan bertanya.

  1. Guru menanyakan kepada peserta didik:

Apa yang kalian pikirkan setelah melihat demonstrasi tadi?

  1. Peseta didik diminta merumuskan pertanyaan terkait dengan demonstrasi yang dilakukan oleh guru, seperti:

  • Mengapa air tidak tumpah?

  • Apa peran kertas HVS dalam menahan air dalam gelas?

  1. Peserta didik diminta merumuskan hipotesis atau jawaban sementara atas pertanyaan yang mereka rumuskan.



III

Mengumpulkan data

  • Peserta didik merumuskan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan. Informasi ini bisa diperoleh melalui berbagai kegiatan antara lain: Membaca literatur, mengamati gambar, menonton video, dan lain-lain.

(kegiatan-kegitan diatas dilakukan untuk membuktikan kebenaran hipotesis atau jawaban sementara yang telah dirumuskan.


IV

Mengolah Data

  • Peserta didik mendiskusikan hasil pengumpulan informasi dari kegiatan pengumpulan data yang dilakukan.

  • Peserta didik menjawab rumusan pertanyaan atau rumusan masalah berdasarkan informasi yang diperoleh kegiatan pengumpulan data.







Penutup



V

Memverifikasi 

  • Peserta didik secara cermat memeriksa rumusan hipotesis.

  • Peserta didik mencocokkan rumusan hipotesis dengan informasi yang berhasil dikumpulkan.






VI

Menyimpulkan

  • Peserta didik menyimpulkan hasil pengumpulan informasi dan diskusi, misalnya:

  • Peserta didik menyimpulkan alasan mengapa air tidak tumpah.




Catatan:
Alokasi waktu pembelajaran selama 2 x 40 menit dalam 1 x pertemuan.
Perbedaan Discovery Learning dan Inquiry Learning

Discovery Learning

Inquiry Learning

Masalah yang dihadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru.

Masalah yang dihadapkan kepada siswa bukan hasil rekayasa.

Cara pencarian informasi tidak terstruktur atau sistematis.

Cara pencarian informasi terstruktur atau sistematis.

Menekankan terhadap pembentukan mental peserta didik.

Menekankan pada pembentukan kognitif.

Proses akhirnya adalah penemuan.

Proses akhirnya terletak pada kepuasan kegiatan meneliti.