Senin, 02 November 2020

Makalah Teori Behavioristik

MAKALAH 

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARANNYA

"TEORI BEHAVIORISTIK"

OLEH:

KELOMPOK I


Hildawati (NIM: H0418321)

Sania (NIM: H0418011)

Megawati (NIM: H0418)

Nurjannah (NIM: H0418)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULAWESI BARAT

2019



KATA PENGANTAR

    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunianya kepada kami sehingga kami berhasil meyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “ Teori Behavioristik dalam Pembelajaran”.

    Shalawat serta salam tak lupa panjatkan kepada nabi besar kita yaitu Nabi Muhammad SAW, karena berkat beliau lah yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita menuju alam yang terang bendearang seperti yang kita rasakan saat ini.

    Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, olek karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak baik Dosen pengampuh mata kuliat teori belajar dan pembelajan maupun dari teman teman kampus sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

    Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari aa sampai akhir. Dan semoda Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.


Majene, 18 Oktober 2019

 Kelompok 1



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR        i

DAFTAR ISI        ii

BAB I PENDAHULUAN

Latar belakang        1

Rumusan masalah        1

Tujuan pembahasan        2

BAB II PEMBAHASAN

Teori belajar behavioristik        3

Pengertian belajar menuru teori behavioristik        4

Tokoh – tokoh aliran behavioristik        5

Ciri – ciri teori behavioristik        15

Kekuatan dan kelemahan teori behavioristik        17

Aplikasi teori behavioristik        19

BAB III PENUTUP

Kesimpulan         21

Saran        21

DAFTAR PUSTAKA


             

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.  Pembelajaran merupakan suatu sistim yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan. 

Teori adalah seperangkat azaz yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata. Teori merupakan seperangkat preposisi yang didalamnya memuat tentang ide, konsep, prosedur dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variable yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis dan diuji serta dibuktikan kebenarannya. Dari dua pendapat diatas Teoriadalah seperangkat azaz tentang kejadian-kejadian yang didalamnnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji kebenarannya.  Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas.

 

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu teori belajar behavioristik ?

2. Apa pengertian belajar menurut teori behavioristi ?

3. Siapa saja tokoh–tokoh aliran behavioristik ?

4. Apa saja ciri – ciri teori behavioristi ?

5. Apa kekuatan dan kelemahan teori behavioristik?

6. Bagaimana aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran ?

 

C. Tujuan Penulisan

1. Agar mengtahui apa itu teori behavioristik.

2. Agar mengetahui pengertian belajar menurut teori behavioristik.

3. Agar mengetahui tokoh – tokoh aliran behavioristik.

4. Agar mengetahui ciri ciri teori behavioristik.

5. Agar mengtahui kekuatan dan kelemahan teori behavioristik.

6. Agar megetahui pengaplikasian teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Behavioristik

Teori Behavioristik merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. 

Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan belajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.

Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.


B. Belajar Menurut Teori Behavioristik

Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar apabila ia bisa menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Contoh, seorang anak mampu berhitung penjumlahan dan pengurangan, meskipun dia belajar dengan giat tetapi dia masih belum bisa mempraktekkan penjumlahannya, maka ia belum bisa dikatakan belajar karena ia belum menunjukkan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari belajar.

Dalam teori Behavioristik, yang terpenting itu adalah masukan atau input yang berupa stimulus serta output yang berupa respon. Apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidaklah penting karena tidak dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran sebab dengan pengukuran kita akan melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang dianggap penting bagi teori ini adalah penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat respon. Jika penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat, begitu juga penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon akan tetap dikuatkan. Misal jika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan, maka ia akan lebih giat belajarnya (positive reinforcement). Apabila tugas-tugas dikurangi justru akan meningkatkan aktifitas belajarnya (negative reinforcement). Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambah) atau dihilangkan (dikurang) untuk memungkinkan mendapat respon.


C. Tokoh-tokoh Aliran Behaviorisme

Di bawah ini merupakan tokoh-tokoh yang mempunyai pandangan terhadap Psikologi Behaviorisme, antara lain:

1. BURHUSS FREDERICK SKINNER

    Burrhus Skinner (20 Maret 1904 sampai 18 Agustus 1990) adalah seorang psikolog dari Amerika yang terkenal akan aliran behaviorismenya. Skinner memiliki pendapat bahwa hubungan antara stimulus dengan respon yang ditunjukkan individu atau subyek terjadi melalui interaksi dengan lingkungan. Respon yang ditunjukkan pun tak seluruhnya merupakan hasil dari rangsangan yang ada, tetapi karena interaksi antara stimulus yang menghasilkan respon. Respon menghasilkan konsekuensi. Pada akhirnya konsekuensi akan menghasilkan atau memunculkan perilaku.

      Skinner dalam teori behaviorisitk melahirkan buah pemikirannya yang dikenal dengan istilah Teori Operant Condiitioning. Teori ini mengungkapakan bahwa tingkah laku yang dilihatkan subyek tak semata-mata merupakan respon terhadap stimulus tetapi juga tindakan yang disengaja. Skinner menyatakan pendapatnya bahwa pribadi seseorang merupakan hasil dari respon terhadap lingkungannya. Dua macam respon tersebut adalah:

a. Respondent Response yaitu respon akibat rangsangan tertentu. Contoh: anjing yang mengeluarkan air liurnya ketika majikannya membawakan makanan untuknya.

b. Operant Response yaitu respon yang muncul dan semakin berkembang oleh rangsangan tertentu. Contoh: seorang anak yang mendapatkan reward ketika ia menjadi juara kelas, maka ia akan semakin giat belajar untuk mempertahankan bahkan menaikkan prestasinya dengan harapan diberikan reward kembali (dengan nilai yang sama atau lebih tinggi). 

Pernyataan yang dikemukankan oleh Skinner setelah melakukan 

percobaannya bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan, dimana penguatan yang terbentuk melalui ikatan STIMULUS RESPON akan semakin kuat bila diberi penguatan. penguatan ini yaitu penguatan POSITIF dan NEGATIF.

Behaviorisme ingin menganalisis bahwa prilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan pada dasarnya manusia tidak membawa apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimannya dari lingkungan sekitarnya. “Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik”.


2. EDWARD LEE THOMDIKE (1874-1949 )

Edward Thorndike (31 Agustus 1874 sampai 9 Agustus 1949) merupakan seorang psikolog berkebangsaan Amerika yang dikenal menghabiskan hampir seluruh karirnya di Columbia University. Karya yang diciptakannya dalam bidang Psikologi Perbandingan dan proses pembelajaran akhirnya berhasil membuahkan dasar ilmiah dalam psikologi pendidikan modern.

      Thorndike memiliki pengertian dari teori belajar behavioristik yang dipahaminya sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah rangsangan, contohnya seperti pikiran dan perasaan. Sedangkan respon adalah reaksi yang ditunjukkan akibat stimulus. Perubahan tingkah laku akibat pembelajaran bagi Thorndike bisa berupa hal konkrit (bisa diamati dengan kasat mata) maupun tak konkrit.

   Thorndike dikenal akan percobaannya yang paling fenomenal yaitu meneliti perilaku pembelajaran oleh kucing. Ia meletakkan kucing yang lapar pada sebuah tempat transparan yang mengurung kucing tersebut dan makanan di luar tempat pengurungan itu. Kucing tersebut diamati melakukan beberapa gerakan untuk mencapai makanan yang dilihatnya dan inilah yang diamati Thorndike. 

Pada awalnya, kucing berusaha untuk meloncat ke sana ke mari guna meraih makanan yang dilihatnya. Sampai akhirnya kucing tersebut tidak sengaja menyetuh kenop yang membukakan jalan dari tempat transparan tersebut dan memperbolehkan kucing meraih makanan yang dilihatnya. Percobaan ini dilakukan beberapa kali hingga kucing, secara otomatis, melakukan gerakan menyentuh kenop untuk membuka jalan agar ia bisa mendapatkan makanan.

Pemahaman dari tokoh Thorndike akhirnya melahirkan beberapa dalil belajar, antara lain:

a. Hukum Sebab Akibat, yang menunjukkan kuat lemahnya hubungan antara stimulus dengan respon tergantung pada akibat yang ditimbulkan.

b. Hukum Pembiasaan, yang menunjukkan bahwa hubungan stimulus dengan respon bisa menjadi kuat ketika dilatih atau diulang. 

c. Hukum Kesiapan, yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dengan respon akan mudah terbentuk jika ada kesiapan dari individu itu.

d. Hukum Reaksi Bervariasi, yaitu hukum yang menyatakan bahwa individu melakukan trial and error lebih dulu untuk menunjukkan macam-macam respon sebelum mendapat respon paling tepat.

e. Hukum Sikap, yaitu hukum yang menyatakan bahwa perilaku seseorang juga ditentukan oleh keadaan yang ada dalam diri individu seperti emosi dan psikomotor.

f. Hukum Aktivitas Berat Sebelah, yaitu individu memberikan respon pada stimulus tertentu sesuai dengan persepsi terhadap keseluruhan situasi. Hukum Respon, yang merupakan pemahaman bahwa individu bisa menyatakan respon tindakan bahkan pada situasi yang belum pernah dialaminya.

g. Hukum Perpindahan Asosiasi, yaitu proses peralihan situasi lama ke situasi baru dengan cara bertahap, mengurangi unsur situasi lama dan mengenalkan unsur situasi baru.


3. IVAN PETROVICH PAVLOV (1849-1936)

Tokoh selanjutnya adalah Ivan Pavlov (lebih dikenal dengan julukan Pavlov saja, 14 September 1849 sampai 27 Februari 1936), merupakan fisiolog sekaligus dokter asal Rusia. Pavlov meraih penghargaan Nobel dalam bidang psikology or medicine pada tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikologi behavioristik di Amerika. Classic conditioning (pengkondisian) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.

      Pavlov mengadakan operasi leher pada seekor anjing sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan maka akan keluarlah air liurnya. Kini sebelum makanan diperlihatkan maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar juga. 

      Percobaan ini dilakukan dengan memperlihatkan makanan pada anjing. Anjing tersebut kemudian mengeluarkan air liur yang merupakan stimulus alami dan diasosiasikan dengan keinginan akan makanan tersebut. Percobaan ini dilanjutkan dengan membunyikan lonceng untuk memanggil anjing yang kemudian akan diperlihatkan makanan.

     Pada akhirnya, anjing akan menangkap pembelajaran bahwa lonceng memiliki keterkaitan dengan makanan, sehingga ketika Pavlov mencoba membunyikan lonceng yang awalnya digunakan untuk memanggil anjing tersebut, secara otomatis anjing tersebut sudah menanggapi dengan mengeluarkan air liur.

     Hasil eksperimen Pavlov ini akhirnya melahirkan beberapa hukum pembelajaran, yaitu:

a. Hukum Pembiasaan yang Dituntut.

Hukum ini menjelaskan bahwa jika ada dua macam stimulus yang diberikan secara bersama-sama (dan salah satunya merupakan reinforcer), maka gerakan reflek pada stimulus lainnya juga meningkat.

b. Hukum Pemusnahan yang Dituntut.

Hukum ini memaparkan jika reflek yang diperkuat melalui respondent conditioning diberikan kembali tanpa adanya reinforcer, maka kekuatannya akan melemah.

      Dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.


4. ROBERT GAGNE (1916-2002)

      Robert Gagne dikenal sebagai seorang ahli psikologi pendidikan. Gagne memiliki pendapatnya sendiri mengenai istilah belajar, yaitu sebagai proses suatu organisasi atau siswa berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman yang pernah dialaminya. Belajar adalah proses yang memerlukan waktu untuk dapat melihat perubahannya (dari kurang baik menjadi lebih baik). Gagne juga berpendapat bahwa pembelajaran adalah periode terjadinya penerimaan informasi yang kemudian diolah dan dihasilkan output dalam bentuk hasil belajar.

Tahapan proses pembelajaran menurun Gagne dijelaskan dalam beberapa tingkatan, yaitu:

a. Motivasi,

b. pemahaman,

c. perolehan,

d. penyimpanan,

e. ingatan kembali,

f. generalisasi,

g. perlakuan,

h. umpan balik.

Gagne juga menyatakan adanya beberapa kategori belajar, di antaranya:

a. Verbal Information. Informasi verbal bisa berwujud uraian kata-kata, ulasan, maupun penjelasan yang bisa dikomunikasikan menggunakan bahasa baik secara lisan maupun tulisan.

b. Intellectual Skill. Kemampuan intelektual merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam aktivitas mental seperti berpikir, menggunakan logika, dan memecahkan masalah.

c. Attitude atau perilaku.

d. Cognitive Strategy. Strategi kognitif merupakan kemampuan internal atau dalam diri seseorang dalam berpikir, memecahkan masalah, hingga mengambil keputusan terkait suatu kejadian.

    Menurut Gagne, belajar dimulai dari paling sederhana (belajar signal) dilanjutkan pada yang lebih kompleks sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi dan prakteknya tetap mengacu pada asosiasi stimulus-respon.


5. ALBERT BANDURA (1925-SEKARANG)

       Albert Bandura merupakan ahli dalam teori belajar behavioristik yang paling muda. Ia adalah seorang psikolog lulusan University of British of Columbia yang kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Iowa dan Universitas Stanford. Hingga saat ini, Bandura tercatat sebagai dosen di Universitas Stanford.

       Albert Bandura cukup terkenal dalam dunia psikologi pendidikan, terutama dengan Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory), yaitu konsep dalam teori behavioristik yang menekankan komponen kognitif, pikiran, pemahaman, dan evaluasi. Teori Pembelajaran Sosial ini memiliki konsep utama pembelajaran dengan metode pengamatan. Menurut teori ini, perilaku individu bisa timbul karena proses modeling, atau tindakan peniruan.

      Modeling juga dikenal sebagai pembelajaran melalui proses observasi. Pembelajaran ini tidak sekadar melakukan fotokopi pada tindakan yang dilihatnya tetapi juga menyesuaikan, baik itu mengurangi, menambahi, atau menggeneralisasi dari satu observasi ke observasi lainnya. Ada beberapa faktor yang memengaruhi dan menentukan apakah seseorang akan belajar dari suatu situasi, faktor-faktor tersebut antara lain:

a. Karakteristik model. Faktor ini menjelaskan kalau manusia lebih mungkin melakukan modeling pada individu contoh dengan status (sosial, ekonomi, pekerjaan) yang lebih tinggi.

b. Karakteristik orang yang mempelajari tersebut, biasanya adalah mereka yang tidak memiliki status, kemampuan, atau pun kekuatan. Misalnya anak yang mengikuti atau modeling perilaku orang tuanya.

c. Konsekuensi dari tindakan yang ditiru. Konsekuensi yang semakin besar juga akan semakin menekan orang untuk melakukan modeling. Misalkan, pegawai kantoran berusaha sedisiplin mungkin seperti rekan kerjanya untuk menyabet gelar karyawan terbaik tahun ini.

    Teori belajar social Bandura menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap, dan reaksi emosi orang lain. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikkan secara masal.


6. JOHN WATSON

John Watson lahir pada tahun 1878 dan meninggal tahun 1958. Setelah memperoleh gelar master dalam bidang bahasa (Latin dan Yunani), matematika, dan filsafat di tahun 1900, ia menempuh pendidikan di University of Chicago. Minat awalnya adalah pada filsafat, sebelum beralih ke psikologi karena pengaruh Angell. Akhirnya ia memutuskan menulis disertasi dalam bidang psikologi eksperimen dan melakukan studi-studi dengan tikus percobaan. Tahun 1903 ia menyelesaikan disertasinya. Tahun 1908 ia pindah ke John Hopkins University dan menjadi direktur lab psi di sana. Pada tahun 1912 ia menulis karya utamanya yang dikenal sebagai ‘behaviorist’s manifesto’, yaitu “Psychology as the Behaviorists Views it”.

Dalam karyanya ini Watson menetapkan dasar konsep utama dari aliran behaviorisme:

a. Psikologi adalah cabang eksperimental dari natural science.

Posisinya setara dengan ilmu kimia dan fisika sehingga introspeksi tidak punya tempat di dalamnya.

b. Sejauh ini psikologi gagal dalam usahanya membuktikan jati diri sebagai natural science.

Salah satu halangannya adalah keputusan untuk menjadikan bidang kesadaran sebagai obyek psikologi. Oleh karenanya kesadaran atau mind harus dihapus dari ruang lingkup psikologi.

c. Obyek studi psikologi yang sebenarnya adalah perilaku nyata.


Pandangan Utama Watson    

a. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology)

Yang dimaksud dengan stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert, learned dan unlearned.

b. Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku.

      Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting. Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik, perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free will.

c. Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja.

Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi, bukan berarti bahwa Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind. Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras, namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.

d. Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, makapsikologi harus menggunakan metode empiris.

       Dalam hal ini metode psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.

e. Secara bertahap Watson menolak konsep insting

       Mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik anak-anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.

f. Konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya.

Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek Albert). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.

g. Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James.

Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan atau dilakukan. Dengan kata lain, sejauhmana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.

h. Proses thinking and speech terkait erat.

Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya.

i. Perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya.

     Jadi, psikologi adalah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.


D. Ciri – Ciri Teori Behavioristik

Behavioristik merupakan teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner. Menurut mereka,  kebiasaan dalam belajar akan memengaruhi tingkah laku sesorang (dalam Aunnurrahman:2009). Kebiasaan adalah suatu hal yang dilakukan berulang dengan sadar maupun tanpa disadari. Sehingga dapat dikatakan bahwa perilaku akan tampak dari hasil belajar. Teori ini menekankan pada stimulus dan respon, stimulus dapat berupa sesuatu yang diberikan guru kepada muridnya dan respon adalah reaksi atau tanggapan pembelajar terhadap stimulus yang diberikan. Maka dari itu, disimpulkan dari beberapa tokoh yakni Thorndike, Pavlov dan skinner (dalam Aunnurrahman:2009), behaviorisme memiliki ciri - ciri sebagai berikut:

1. Mementingkan pengaruh lingkungan

Teori behaviorisme mengedepankan kebiasaan. Kebiasaan yang memengaruhi tingkah laku ini akan terjadi di lingkungan social seseorang. Lingkungan yang ada di sekitarnya menjadi tempat untuk kesehariannya melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kebiasaannya. Secara tidak langsung lingkungan akan memengaruhi kebiasaan yang dilakukannya.

2. Mementingkan bagian - bagian kecil tingkah laku seseorang.

Tingkah laku seseorang yang dipengaruhi oleh kebiasaannya akan lebih terlihat dalam beberapa aspek kehidupannya. Bagian – bagian kecil dari hidupnya yang akan sering dipentingkan karena hal yang diaggap hal kecil itulah yang lebih sering dilakukan.

3. Mekanistis, perilaku diukur dari hal yang dapat diamati

Teori behavorisme lebih mementingkan sesuatu yang bias diukur. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tingkah laku seseorang harus dapat diukur. Meskipun sesuatu yang abstrak seperti kebiasaan itu memang sangat sulit untuk dikonversi menjadi hitungan angka.

4. Pembentukan respon (reaksi)

Teori ini mengedepankan hubungan stimulus dan respon. Lebih ditekankan lagi pada respon kareana berhubungan dengan pembelajar. Respon akan dibentuk dari stimulus yang sering diberikan.

5. Pentingnya latihan, terutama latihan yang berulang-ulang

Behaviorisme adalah kebiasaan. Dengan kata lain kebiasaan akan muncul ketika seseorang diberikan stimulus yang berulang sampai dia merespon dengan sendirinyameskipun hanya  diberikan stimulus ringan.

6. Pemecahan masalah dengan trial and error

Seseorang yang melakukan hal dengan berulang, dia akan mencoba sesuatu yang sama dengan hasil yang berbeda. Pada tahap awal dia melakukan sesuatu pasti akan menemukan kekurangan atau kesalahan, sehingga dia akan mencoba berulang sampai dia menemukan keberhasilan dan secara tidak langsung menjadi kebiasaan.


E. Kekuatan dan Kelemahan Teori Behavioristik

1. Kekuatan teori behavioristik

  • Membisakan guru untuk bersikap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar.
  • Guru tidak membiasakan memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika murid menemukan kesulitan baru ditanyakan pada guru yang bersangkutan.
  • Mampu membentuk suatu prilaku yang diinginkan mendapatkan pengakuan positif dan prilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negative yang didasari pada prilaku yang tampak.
  • Dengan melalui pengulangan dan pelatihan yang berkesinambungan, dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya. Jika anak sudha mahir dalam satu bidang tertentu, akan lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang berkesinambungan tersebut dan lebih optimal. 
  • Bahan pelajaran yang telah disusun hierarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu mampu menghasilakan suatu prilaku yang konsisten terhadap bidang tertentu.
  • Dapat mengganti stimulus yang satu dengan stimuls yang lainnya dan seterusnya sampai respons yang diinginkan muncul.
  • Teori ini cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsure-unsur kecepatan, spontanitas, dan daya tahan. 
  • Teori behavioristik juga cocok diterapakan untuk anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru, dan suka dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung.


2. Kelemahan Teori Behavioristik

  • Sebuah konsekwensi untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap.
  • Tidak setiap pelajaran dapat menggunakan metode ini.
  • Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa di dengar dan di pandang sebagai cara belajar yang efektif.
  • Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap sebagai metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
  • Murid dipandang pasif, perlu motifasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan oleh guru.
  • Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelsan dari guru dan mendengarkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif sehingga inisiatf siswa terhadap suatu permasalahan yang muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa.
  • Cenderung mengarahakan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif, tidak produktif, dan menundukkan siswa sebagai individu yang pasif.
  • Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru(teacher cenceredlearning) bersifat mekanistik dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur.
  • Penerapan metode yang salah dalam pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa, yaitu guru sebagai center, otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih, dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.


F. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran

Dalam keinginan untuk menerapkan teori pembelajaran ini, maka tenaga pendidik wajib mengetahui ciri-ciri dari metode ini, antara lain:

1. Mementingkan pengaruh lingkungan.

2. Mementingkan bagian-bagian.

3. Mementingkan peranan aksi.

4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.

5. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya.

6. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan.

7. Hasil belajar yang diinginkan adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Berkaca dari ciri-ciri dan konsekuensi penerapan teori belajar ini, paling tidak, guru atau tenaga pendidik bisa menempatkan dirinya dalam mengajar dan mendidik. Beberapa hal terkait dengan sikap yang mesti ditunjukkan tenaga pendidik ketika mengajar menggunakan patokan teori belajar ini antara lain:

1. Menyiapkan materi yang akan diberikan selengkap mungkin, tidak hanya memberikan ceramah tetapi juga contoh yang akan dilihat peserta didik sebagai materi yang akan ditirunya. Pemberian contoh ini akan menjadi logika bagi individu yang belajar, jadi siapkanlah contoh yang mudah dipahami untuk semua peserta didik.

2. Penyusunan bahan pembelajaran ini harus mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit secara berurutan. Sampaikan pada peserta didik dari yang paling mudah ke yang paling rumit. Usahakan untuk tidak memberikan materi secara melompat untuk mempermudah mereka memahami materi yang diberikan secara utuh dan lengkap. 

3. Bagi tujuan pembelajaran dalam beberapa bagian kecil. Hal ini akan membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran dengan cara step by step. Maka dukung tahap ini dengan memberikan reward bagi mereka yang terbukti berhasil mencapai tujuan jangka pendek yang ditetapkan.

4. Guru atau tenaga pendidik harus bisa bersikap jeli, maka ia harus segera bisa mengenali kesalahan yang berpotensi dilakukan individu yang belajar dan mengarahkannya pada pemahaman yang benar.

5. Inti dari teori pembelajaran ini adalah pengulangan dan latihan, maka guru atau tenaga pendidik harus menyiapkan metode pengajaran yang berpatok pada metode pengulangan dengan tujuan memfasilitasi individu yang belajar untuk memahami dengan penuh materi yang diberikan.

Bisa dilihat jika dari aplikasi penggunaan teori ini, guru sebagai pusat pembelajaran harus menjadi sosok pendidik yang sempurna. Sempurna itu dilihat dari persiapan materi, pembawaan diri, dan cara ia mendidik para peserta didiknya. Teori belajar ini bukan hanya memberatkan peserta didik dengan metode pengulangan dan pemberian reward/punishment selama proses belajar, tetapi juga menuntut guru untuk tidak terlihat ‘cacat’ di mata peserta didiknya.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan 

1. Teori Behavioristik merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

2. Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi stimulus dan respon.

3. Adapun tokoh-tokoh aliran behavioristic antara lain:

  • JOHN WATSON
  • BURHUSS FREDERICK SKINNER
  • EDWARD LEE THOMDIKE (1874-1949 )
  • IVAN PETROVICH PAVLOV (1849-1936)
  • ROBERT GAGNE (1916-2002)
  • ALBERT BANDURA (1925-SEKARANG)

4. Adapun ciri-ciri dari teori Behavioristik antara lain:

  • Mementingkan pengaruh lingkungan
  • Mementingkan bagian - bagian kecil tingkah laku seseorang
  • Mekanistis, perilaku diukur dari hal yang dapat diamati
  • Pembentukan respon (reaksi)
  • Pentingnya latihan, terutama latihan yang berulang-ulang
  • Pemecahan masalah dengan trial and error

5. Berikut beberapa kelebihan dan kekurangan teori behavioristic:

Kelebihan:

  • Membisakan guru untuk bersikap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar.
  • Guru tidak membiasakan memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika murid menemukan kesulitan baru ditanyakan pada guru yang bersangkutan.

Kekurangan:

  • Tidak setiap pelajaran dapat menggunakan metode ini.
  • Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa di dengar dan di pandang sebagai cara belajar yang efektif.

6. Jika dilihat dari aplikasi penggunaan teori ini, guru sebagai pusat pembelajaran harus menjadi sosok pendidik yang sempurna. Sempurna itu dilihat dari persiapan materi, pembawaan diri, dan cara ia mendidik para peserta didiknya. Teori belajar ini bukan hanya memberatkan peserta didik dengan metode pengulangan dan pemberian reward/punishment selama proses belajar, tetapi juga menuntut guru untuk tidak terlihat ‘cacat’ di mata peserta didiknya.


B. Saran 

Saran yang dapat penulis sampaikan dari makalah ini, sebaiknya dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah tidak cenderung menggunakan teori belajar behavioristic pada semua jenjang pendidikan karena teori ini hanya berpusat pada guru dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya sehingga siswa cenderung menjadi pasif dan kurang kreatif, dan teori belajar behavioristic sekarang ini hanya pas digunakan untuk melatih anak-anak yang membutuhkan dominasi orang dewasa.



DAFTAR PUSTAKA


Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta https://id.wikipedia.org/wiki/ Teori_Belajar_Behavioristik.. (diakses 18 oktober 2019)

Budinungsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Sagala, Syaiful. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Short Story. 2012. Makalah Teori Belajar Menurut Aliran Behavioristik Dan Landasan Filosofinya di http://rhazhie.blogspot.com

Yulaelawati, Ella. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran Filosofi, Teori dan Aplikasi. Jakarta: Pakar Raya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar