Senin, 02 November 2020

Revisi Butir Soal dan Menafsirkan Hasil Tes

MAKALAH

ASESMEN PEMBELAJARAN FISIKA
“REVISI BUTIR SOAL DAN MENAFSIRKAN HASIL TES”



OLEH:
KELOMPOK III
Hildawati (H0418321)
Megawati (H0418303)
Nur Aliyah (H0418309)
Nurjannah (H0418301)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2020



KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di yaumul kiamah.
Alhamdulillah, kami selaku  penyusun telah berhasil menyelesaikan makalah ini yang berjudul “REVISI BUTIR SOAL DAN MENAFSIRKAN HASIL TES”. Untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah Asemen Pembelajaran Fisika. Ucapan terimah kasih kami hanturkan kepada Bapak MUSDAR S.Pd, M.Pd selaku dosen pengampuh mata kuliah.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini benar-benar dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin ya robbal ‘alamiin.
                                                                                                      
 
Majene, 01 Maret 2020
                                                                            
Penulis 
 
 

 

DAFTAR ISI

 
KATA PENGANTAR    i
DAFTAR ISI    ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang    1
B. Rumusan Masalah    1
C. Tujuan Penulisan    2
D. Manfaat Penulisan    2
BAB II PEMBAHASAN 
A. Pengertian Analisis Butir Soal    3
B. Analisis Butir Soal secara Kualitatif dan Kuantitatif    3
C. Revisi Butir Soal Hasil Analisis    18
D. Hasil Tes Berdasarkan Revisi    19
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan     22
B. Saran    22
DAFTAR PUSTAKA    23


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar belakang

Tidak ada usaha guru yang lebih baik selain usaha untuk selalu meningkatkan mutu tes yang disusunnya. Namun, hal ini tidak dilaksanakan karena kecenderungan seseorang untuk beranggapan bahwa hasil karyanya adalah yang terbaik atau setidak-tidaknya sudah cukup baik. Guru yang sudah berpengalaman, mengajar dan menyusun soal-soal tes, juga masih sukar menyadari bahwa tesnya masih belum sempurna. Oleh karena itu, cara yang paling baik adalah secara jujur melihat hasil yang diperoleh oleh siswa.

Menurut Aiken, kegiatan analisis butir soal merupakan kegiatan penting dalam penyusunan soal agar diperoleh butir soal yang bermutu. Tujuan kegiatan ini adalah mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum digunakan, meningkatkan kualitas butir tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta mengetahui informasi diagnostik  pada siswa apakah mereka telah memahami materi yang telah diajarkan. Soal yang bermutu adalah soal dapat memberikan informasi setepat-tepatnya tentang siswa mana yang telah menguasai meteri dan siswa yang belum menguasai materi.

Menurut Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal dapat dilakukan secara kualitatif (berkaitan dengan isi dan bentuknya), dan kuantitatif (berkaitan dengan ciri-ciri statistiknya). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruksi. Sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran validilitas dan reliabilitas butir soal, kesulitan butir soal, serta diskriminasi soal. Oleh karena itu, teknik terbaik adalah menggunakan atau memadukan keduanya.


B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan  revisi butir soal?
2. Bagaiamana analisis butir soal secara kualitatif dan kuantitaif?
3. Apa itu revisi butir soal hasil analisis?
4. Bagaimana Hasil tes berdasarkan revisi?


C. Tujuan penulisan

1. Untuk Mengetahui apa yang dimaksud dengan revisi butir soal.
2. Untuk Mengetahui analisis butir soal secara kualitatif dan kuantitatif.
3. Untuk Mengetahui revisi butir soal hasil analisis.
4. Untuk Mengetahui hasil tes berdasarkan revisi.


D. Manfaat Penulisan

1. Menambah wawasan dalam merevisi butir soal serta menafsirkan hasil tes. 

2. Mengetahui pengertian revisi butir soal.

3. Mengetahui analisis butir soal secara kualitatif  dan kuantitatif.

4. Mengetahui revisi butir soal hasil analisis.

5. Mengetahui hasil tes berdasarkan revisi.


BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Revisi Butir Soal

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia revisi adalah peninjauan atau pemeriksaan kembali untuk perbaikan. Maksudnya, revisi itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh. Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki butir soal dan tes tersebut.

Menurut Aiken dalam Suprananto (2012) berpendapat bahwa kegiatan analisis butir soal merupakan kegiatan penting dalam penyusunan soal agar diperoleh butir soal yang bermutu.


B. Analisis Butir Soal Secara Kualitatif dan Kuantitatif

1. Analisis Butir Soal Secara Kualitatif

Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan.

Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya. Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal, penelaah perlu mempersiapkan bahan-bahan penunjang seperti:

  • kisi-kisi tes,
  • kurikulumyang digunakan,
  • buku sumber
  • kamus bahasa Indonesia.


a.  Teknik Analisis Secara Kualitatif

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, diantaranya adalah:

1) Teknik moderator

Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi, ahli materi, penyusun/pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa berlatar belakang psikologi. Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama-sama berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah dipersilahkan mengomentari/memperbaiki berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Setiap komentar/masukan dari peserta diskusi dicatat oleh notulen. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama, sehingga menghasilkan perbaikan. Namun, kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal.

2) Teknik Panel

Teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah berdasarkan kaidah penulisan butir soal, yaitu ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban/pedoman penskorannya yang dilakukan oleh beberapa penelaah. Caranya adalah beberapa penelaah diberikan butir-butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian/penelaahannya. Pada tahap awal para penelaah diberikan pengarahan, kemudian tahap berikutnya para penelaah berkerja sendiri-sendiri ditempat yang tidak sama. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan  nilai pada setiap butir soalnya yang kriterianya adalah baik, diperbaiki, atau diganti.

b. Prosedur Analisis Secara Kualitatif

Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif, penggunaan format penelaahan soal akan sangat membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal. Format penelaahan soal yang dimaksud adalah format penelaahan butir soal: uraian, pilihan ganda, tes perbuatan dan instrumen non-tes. Agar penelaah dapat dengan mudah menggunakan  format penelaahan soal, maka para penelaah perlu memperhatikan petunjuk pengisian formatnya. Petunjuknya adalah seperti berikut ini.

1) Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format!

2) Berilah tanda cek (V) pada kolom "Ya" bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria!

3) Berilah tanda cek (V) pada kolom "Tidak" bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria, kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan perbaikannya.

Berikut ini disajikann keempat format penelaahan butir soal, yaitu:

1) Format Penelaahan Butir Soal Bentuk Uraian

Mata Pelajaran :...

Kelas/semester :...

Penelaah           :...


No.

Aspek yang ditelaah

Nomor soal

1

2

3

4

5

…..

A

Materi

1

Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk urain)







2

Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai







3

Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevansi, kontinuitas, keterpakaian dalam sehari-hari)







4

Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas.







B

Kontruksi

1

Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian.







2

Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.







3

Ada pedoman penskorannya.







4

Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca







C

Bahasa/budaya

1

Rumusan kalimat komunikatif







2

Butir soal menggunakan bahasa indonesia yang baku







3

Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian







4

Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempatr/tabu







Keterangan:

Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah.

2) Format Penelaahan Butir Soal Bentuk pilihan ganda

Mata Pelajaran  :...

Kelas/semester  :...

Penelaah             :...


No

Aspek yang ditelaah

Nomor soal

1

2

3

4

5

6

A

Materi

1

Soal sesuai dangan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk pilihan ganda)







2

Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevansi, kontinuitas, keterpakaian dalam sehari-hari)







3

Pilihan jawaban homogen dan logis







4

Hanya ada satu jawaban







B

Kontruksi

1

Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas







2

Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja







3

Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban







4

Pokok soal bebas dan pernyataan yang bersifat negatif ganda







5

Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi







6

Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan berfungsi 







7

Panjang pilihan jawaban relatif sama







8

Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan “semua jawaban diatas salah/benar “ dan  sejenisnya







9

Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu dususun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya







10

Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya







C

Bahasa/budaya







1

Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa indonesia







2

Menggunakan bahasa yang komunikatif 







3

Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu 







4

Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian








3) Format Penelaahan untuk Instrumen Perbuatan 

Mata pelajaran :...

Kelas/semester :....

Penelaah            :...


No

Aspek yang telah ditelaah

Nomor soal

1

2

3

4

5

….

A

Materi 

1

Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes perbuatan : kinerja, hasil karya, atau penugasan)







2

Pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai







3

Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi ( urgensi, relevansi, kontinuitas, keterpakaian sehari hari tinggi







4

Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas







B

Kontruksi

1

Menggunakan Kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban perbuatan/praktek







2

Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal







3

Ada pedoman penskorannya







4

Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca







C

Bahasa/budaya

1

Rumusan kalimat komunikatif 







2

Butir soal menggunakan bahasa indonesia yang baku







3

Tidakmenggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian







4

Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu







5

Rumusan soal tidak mengandung kata atau ungkapan yang dapat menyinggung perasaan siswa







Keterangan:

Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah!


4) Format Penelaahan untuk instrumen Non-Tes

Mata Pelajaran   :...

Kelas/semester   :...

Penelaah              :... 


No

Aspek yang telah ditelaah

Nomor soal

1

2

3

4

5

….

A

Materi 

1

Pernyataan/ soal sudah sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi







2

Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap : aspek koginisi, afeksi, atau konasi dan pernyataan positif atau negatifnya 







B

Kontruksi







1

Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas







2

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersonalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang tidak diperlukan saja







3

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda







4

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu







5

Kalimatnya bebas dari pernyataan faktual atau dapat diinterpresentasikan sebagai fakta







6

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden







7

Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap







8

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak pasti-pasti seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun, tidak pernah







9

Kalimatnya tidak banyak menggunakan kata tanya, sekedar,semata-mata







C

Bahasa/budaya







1

Bahasa soal harus komunkatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan siswa atau responden







2

Soal menggunakan bahasa indonesia baku







3

Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu







Keterangan:

Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah.


2. Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif

Analisis butir soal secara kuantitatif adalah pengujian terhadap soal dengan cara menganalisa data empirik dari butir soal yang bersangkutan. data empiric ini diperoleh dari soal yang telah yang diujikan. Ada dua pendekatan dalam analisis butir soal secara kuantitaif adalah:

a) Pendekatan klasik 

Pendekatan klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. 

Kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer, sederhana, familier dan dapat menggunakan data dari beberapa peserta didik atau sampel kecil. Adapun proses analisisnya sudah banyak dilaksanakan para guru di sekolah seperti beberapa contoh di bawah ini.

1) Langkah pertama yang dilakukan adalah menabulasi jawaban yang telah dibuat pada setiap butir soal yang meliputi berapa peserta didik yang:

  • menjawab benar pada setiap soal,m
  • menjawab salah (option pengecoh),t
  • tidak menjawab soal.

Berdasarkan tabulasi ini, dapat diketahui tingkat kesukaran setiap butir soal, daya pembeda soal, alternatif jawaban yang dipilih peserta didik. 

2) Misalnya analisis untuk 32 siswa, maka langkahnya yaitu:

  • Urutkan skor siswa dari yang tertinggi sampai yang terendah.
  • Pilih 10 lembar jawaban pada kelompok atas dan 10 lembar jawaban pada kelompok bawah.
  • Ambil kelompok tengah (12 lembar jawaban) dan tidak disertakan dalam analisis.
  • Untuk masing-masing soal, susun jumlah siswa kelompok atas dan bawah pada setiap pilihan jawaban.
  • Hitung tingkat kesukaran pada setiap butir soal.
  • Hitung daya pembeda soal.
  • Analisis efektivitas pengecoh pada setiap soal 

 Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi:

1) Tingkat Kesukaran (TK)

Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 - 1,00. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. Rumus ini dipergunakan untuk soal obyektif. Rumusnya adalah seperti berikut:

 

Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal bentuk uraian digunakan rumus berikut ini. 



Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan tingkat kesukaran soal itu. Klasifikasi tingkat kesukaran soal dapat dicontohkan seperti berikut ini. 

  • 0,00 - 0,30 soal tergolong sukar.
  • 0,31 - 0,70 soal tergolong sedang.
  • 0,71 - 1,00 soal tergolong mudah.

2) Daya Pembeda (DP) 

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan siswa yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti berikut ini.

  • Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya. Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak.
  • Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru.

Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersangkutan untuk membedakan siswa yang telah memahami materi dengan peserta didik yang belum memahami materi. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal, maka semakin kuat/baik soal itu. Jika daya pembeda negatif (<0) berarti lebih banyak kelompok bawah (peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benar soal dibanding dengan kelompok atas (peserta didik yang memahami materi yang diajarkan guru). 

Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda adalah dengan menggunakan rumus berikut ini. 

         atau          

Keterangan.

DP=daya pembeda soal

BA=jumlah jawaban benar pada kelompok atas

BB-jumlah jawaban benar pada kelompok bawah

N=jumlah siswa yang mengerjakan tes.

Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk uraian adalah dengan menggunakan rumus berikut ini. 


Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antar peserta didik yang sudah memahami materi yang diujikan dengan peserta didik yang belum/tidak memahami materi yang diujikan. Adapun klasifikasinya adalah seperti berikut.

  • 0,40 - 1,00 soal diterima baik.
  • 0,30 - 0,39 soal diterima tetapi perlu diperbaiki.
  • 0,20 - 0,29  soal diperbaiki.
  • 0,19 - 0,00  soal tidak dipakai/dibuang 

3) Penyebaran (distribusi) jawaban

Penyebaran pilihan jawaban dijadikan dasar dalam penelaahan soal. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui berfungsi tidaknya jawaban yang tersedia. Suatu pilihan jawaban (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi apabila pengecoh:

  • paling tidak dipilih oleh 5% peserta tes/siswa,
  • lebih banyak dipilih oleh kelompok siswa yang belum paham materi.


b) Pendekatan modern 

Analisis butir soal secara modern yaitu penelaahan butir soal dengan menggunakan Item Response Theory (IRT) atau teori jawaban butir soal. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu soal dengan kemampuan siswa.


C. Revisi Butir Soal Hasil Analisis

Tes adalah suatu pernyataan, tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait atau atribut pendidikan dan psikologi. Setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.

Menurut Asmawi Zainul ada beberapa alasan dilakukannya revisi butir hasil analisis soal diantaranya yaitu:

1. Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan butir tes, sehingga dapat dilakukan seleksi dan revisi butir soal.

2. Untuk menyediakan informasi tentang spesifikasi butir soal secara lengkap, sehingga akan lebih memudahkan bagi pembuat soal dalam menyusun perangkat soal yang akan memenuhi kebutuhan ujian dalam bidang dan tingkat tertentu.

3. Untuk segera dapat mengetahui masalah yang terkandung dalam butir soal, seperti: kemenduaan butir soal, kesalahan meletakkan kunci jawaban, soal yang terlalu sukar dan terlalu mudah, atau soal yang mempunyai daya beda rendah. Masalah ini bila diketahui dengan segera akan memungkinkan bagi pembuat soal untuk mengambil keputusan apakah butir soal yang  bermasalah itu akan digugurkan atau direvisi guna menentukan nilai peserta didik.

4. Untuk dijadikan alat guna menilai butir soal yang akan disimpan dalam kumpulan soal.

5. Untuk memperoleh informasi tentang butir soal sehingga memungkinkan untuk menyusun beberapa perangkat soal. Penyusunan perangkat seperti ini sangat bermanfaat bila akan melakukan ujian ulang.


D. Hasil Tes Berdasarkan Revisi

Dalam mengolah suatu hasil dari tes yang diberikan oleh Guru kepada peserta didik, maka digunakan pendekatan untuk menafsirkan hasil dari tes tersebut. Pendekatan tersebut yakni Pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan Pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN). Pendekatan Acuan Patokan pada umumnya digunakan untuk menafsirkan hasil tes Formatif, sedangkan Penilaian Acuan Norma (PAN) digunakan untuk menafsirkan hasil tes Sumatif.

1. Penilaian Acuan Norma (PAN)

Pada pendekatan Penilaian Acuan Norma, makna dari angka (skor) seorang peserta didik ditemukan dengan cara membandingkan hasil belajarnya dengan hasil belajar peserta didik lainnya dalam kelompok/kelas. Peserta didik dikelompokkan berdasarkan jenjang hasil belajar sehingga dapat diketahui kedudukan relatif seorang peserta didik dibandingkan dengan teman sekelasnya. Artinya, penentuan skor mengacu pada perolehan skor dikelompok itu sebagai patokan. DEngan demikian, patokan dalam PAN bersifat relative. Tujuan penilaian acuan norma adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-kelompok dari tingkat kemampuan, mulai dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi.

Untuk mengubah skor mentah menjadi skor akhir seorang siswa dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.


Keterangan.

SA= Skor Akhir peserta tes

PS= Perolehan Skor

ST= Skor Tertinggi factual

SP= Skala Penilaian

2. Penilaian Acuan Kriteria (PAK)

Penilaian Acuan Kriteria merupakan penilaian yang dalam menafsirkan atau menginterpretasikan skor hasil pengukuran menggunakan (standar) yang tetap. Patokan ni, lebih memfokuskan atau menitikberatkan pada hal apa saja yang dapat dilakukan oleh peserta didik. Artinya, kemampuan-kemampuan apa yang telah dicapai oleh peserta didik sesudah menyelesaikan satu bagian kecil dari keseluruhan program. Jadi, penilaian acuan patokan meneliti apa yang bisa dikerjakan oleh peserta didik, dan bukan membandingkan antara peserta didik yang satu dengan yang lain dalam kelasnya, melainkan dengan suatu kriteria atau dengan patokan yang spesifik. Patokan yang dimaksud yakni merupakan suatu tingkatan dalam pengalaman belajar yang diharapkan tercapai seusai kegiatan belajar atau sejumlah kompetensi dasar yang telah diterapkan terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar berlangsung.

Untuk mengubah skor mentah menjadi skor akhir seorang siswa dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.


Keterangan.

SA= Skor Akhir peserta tes

PS= Perolehan Skor

ST= Skor Tertinggi ideal

SP= Skala Penilaian



BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki butir soal dan tes tersebut.

Analisis butir soal dapat dilakukan secara kualitatif ( berkaitan dengan isi dan bentuknya) dan secara kuantitatif (berkaitan dengan ciri-ciri statistiknya).

Dalam mengolah suatu hasil dari tes yang diberikan oleh Guru kepada peserta didik, maka digunakan pendekatan untuk menafsirkan hasil dari tes tersebut. Pendekatan tersebut yakni Pendekatan Penilaian Acuan Kriteria (PAK) dan Pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN).


B. Saran

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami selanjutnya.

Semoga dengan dibuatnya makalah ini kita bisa menambah wawasan pengetahuan kita, tentang Revisi Butir Soal dan Menafsirkan Hasil Tes. Dan semoga kita bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika kelak kita menjadi seorang pendidik.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi penulis pribadi. Aamiin.



DAFTAR PUSTAKA


Chan, LA. 2014. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Hasil Belajar di https://id.scribd.com/doc/238591938/Teknik-Pemeriksaan-Hasil-Tes-Hasil-Belajar-Kel-4 (di akses pada 8 maret 2020)

Deemaz’s, Aboo. 2011. Analisis Butir Soal Secara Kualitatif di http://aboodeemaz.blogspot.com/2011/08/analisis-butir-soal-secara-kualitatif.html?m=1 (di akses pada 1 maret 2020)

Ihsan, Muhammad. Makalah Pengolahan Hasil Penilaian di https://www.academia.edu/37637504/Makalah_PENGOLAHAN_HASIL_PENILAIAN  (di akses pada 9 maret 2020)

Uno, HB., Koni, Satrio. 2014. Assessment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Widoyoko, EP. 2016. Penilaian Hasil Pembelajaran di Sekolah.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar